Rabu, 10 Maret 2010

Sekelumit kisah Kebakaran Bunderan Kamal muara, Jakarta Utara

Tentunya tidak ada satu orang pun warga yang tinggal di bunderan Kamal muara mengira bahwa mereka akan kehilangan semua harta mereka, karena dilalap si jago merah. Ya, pada hari Jumat, 1 Agustus 2008 kampung bunderan, yaitu yang terletak di RT 007 dan RW 01 Kel kamal Muara, habis dilahap api. Kebakaran ini berlangsung dari pukul 16.00 s/d 19.00 WIB.

Ada berbagai versi tentang penyebab kebakaran di bunderan ini. Karena, tabung gas warga yang meledak, aliran listrik yang konslet dan juga ada rumor di warga bahwa kebakaran kali ini adalah sengaja, karena di wilayah ini akan dibangun jalan layang. Keterangan warga ini senada dengan berita di Tempo Interaktif tanggal 1 Juli 2008, di bawah artikel ” Kamal Muara Akan Dibangun Jalan Layang Atau Terowongan”. Pemprov DKI, mengatakan bahwa mereka akan mendirikan jalan layang atau terowongan untuk mengatasi kemacetan yang biasa terjadi di simpang Kamal Muara. Jalan itu akan melintasi Simpang Kapuk Kamal, Penjaringan, Jakarta Utara. Rencananya, jalan yang mulai dibangun tahun depan itu akan dibuat memanjang dari jalan arteri non tol di lingkar barat tol Sedyatmo dan masuk ke Pantai Indah Kapuk (PIK).

Tetapi tentunya kita tak akan dapat jawaban iya, dari pemprov jika kita konfirmasikan hal ini ke mereka. Walau demikian, kita bisa merasakan ”aroma-aroma’ ke arah sana dari langkah penanganan paska kebakaran yang diusulkan Pemprov ke warga korban kebakaran. Pemprov menyarankan warga pindah ke tempat penampungan yang disediakan Pemda dan bekas kebakaran akan dipagari. Siapa yang bisa menjamin, kalau tempat bekas kebakaran ini nantinya tidak akan didirikan untuk jembatan layang atau terowongan seperti yang sudah mereka rencanakan?

Masih terkait dengan rencana mendirikan jalan layang di kamal ini, sebenarnya dari keterangan di atas, kita sudah bisa mencium adanya kolusi penguasa dan penguasa. Terlihat dari jalur jalan layang itu sendiri. Tol dan Pantai indah Kapuk (PIK). Sudah sejak lama, dan menjadi rahasia umum bahwa proyek PIK, dengan reklamasinya sudah menunjukkan adanya indkiasi kolusi ini. dan dengan jalur jalan layang yang akan ke PIK juga mengindikasikan bahwa reklamasi, yang kemarin-kemarin mati suri, masih berlanjut. Jika sekarang bunderan yang “dihabisi”, tentunya tinggal waktu kampung kamal, yang mendapat giliran, toh warga di kampung ini sudah sangat kenyang dengan rumor-rumor seputar hal ini. terlihat juga dari rencana proyek ini adalah, kebijakan atau proyek Pemprov masih memihak ke pengusaha, ke investor, ke pemilik modal dan tidak segan “mematikan” warganya yang miskin, tempat tinggal mereka, tempat usaha mereka, maupun diri mereka sendiri.

Pada kebakaran selama kurang lebih 3 jam ini, memakan korban meninggal 3 orang. 2 orang anak kecil yang terkurung didalam kobaran api dan bingung mencari jalan keluar, karena pemukiman bunderan ini juga sangat padat. 1 orang lainnya adalah seorang nenek, yang tidak bisa lari menyelamatkan diri karena lumpuh. Selain korban meninggal tersebut, ditaksir puluhan juta rupiah kerugian yang diderita warga akibat rumah-rumah dan pakaian-pakaian mereka yang ludes terbakar.

Sesaat setelah kebakaran terjadi, banyak pihak yang memberi bantuan. Bantuannya, berasal dari Partai-partai (Golkar, PDI P, PBR, PKS, HANURA), LSM (UPC), SMPN 120, pribadi dan juga pabrik-pabruik sekitar bunderan. Sedangkan bentuknya berupa pakaian bekas, makanan, dapur umum, uang dan pelayanan kesehatan, dan obat-obatan dan juga tempat pengungsian Sementara yaitu di Pabrik Olympic, Kantor Kelurahan dyang dideritaan tenda-tenda.

Menurut keterangan dari tim yang memberikan pelayanan kesehatan, penyakit yang sering dikeluhkan sebenarnya, sudah dihidap lama oleh pasien, tapi memang karena kejadian yang baru menimpa mereka, penyakitkambuh. Selain itu, juga penyakit demam dan batuk yang terjadi karena mereka tinggal di tempat pengungsian.

Yang menarik juga adalah, jika kita lihat asal bantuan yang diterima, partai-partai peserta pemilu 2009 seperti berlomba-lomba memperlihatkan kepedulian mereka. Indikasinya yang akan terlihat lngsung adalah, bendera-bendera partai yang menjamur di lokasi bekas kebakaran. Tapi tentunya, ini bukan sekedar sebagai bentuk kepedulian, kesetiakawanan, kemanusiaan atau apalah namanya. Tapi, mereka jadikan sebagai ajang kampanye, ajang perkenalkan diri, atau ajang jual diri tentunya dengan harapan 2009, orang-orang yang menerima bantuan mereka, akan ingat, dan membalas “budi” mereka dengan mencoblos/memberi tanda pada lambang partai, yang notabene sudah beredar di hampir semua wilayah bekas kebakaran. Jumlah orang sekitar 800, adalah jumlah suara yang cukup menggiurkan bagi para partai peserta pemilu.

Jika sekarang kita ke bunderan Kamal, kita akan melihat bahwa warga sudah kembali mendirikan rumah-rumah mereka. Hal ini sebenarnya juga di”kompori” oleh beberapa pihak di KAMAL, dengan 2 asumsi: (1) kalau tidak segera dibangun, PEMDA akan mengambil alih tempat ini terkait rencana mereka yang akan membangun jembatan layang disini. (2) warga di bekas kebakran ini adalah warga “liar”, dengan artian, mereka sebagiannya adalah maling, copet preman, PSK dsb. Jika mereka dipindah ke kampung lain, ditakutkan mereka akan ‘ganggu”, maka lebih baik mereka di tempat mereka semula saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar