Rabu, 17 Maret 2010

masalah...

Masalah
Seorang teman baik mengirimkan sebuah pesan singkat namun kaya makna dan menayangkan film panjang hari hari hidup yang telah lewat dan membuatku merumuskan kembali langkah dan rencana serta arah untuk hari esok.
“ sudah banyak masalah. Jangan buat masalah lagi ya.”
Begitu pesan singkat itu. Yep. Sudah sangat banyak masalah yang timbul karena diri ini. Masalah yang membuat takut diri ini, membuatr malu semua keluarga membuat bangga orang lain. Masalah yang berimbas dan menciprati orang orang di sekitarku dengan berbagai motif dan warna cipratannya. Masalah yang menimbulkan reaksi marah sesaat, marah terus menerus dan tidak berhenti henti. Masalah yang menimbulkan tangis dalam pada kedua orang tua. Masalah yang diabaikan olehku imbasnya, karena kesombongan diri. Masalah yang membuat perjalanan hidup ini berubah.
Namun, ketika sekarang ingin mengutarakannya lagi dan ingin menguraikannya lagi, BINGUNG!!bingung karena masalahnya sudah saling bertaut, saling berhubnugan, tidak lagi berhubungan sebab akibat, tapi sebab sebab atau sehingga sehingga. Membuat masalah ini menjadi kumpulan benang basah di dalam sekam yang coba disatukan.
Masalah mana sih yang duluan? Masalah mana yang paling belakangan muncul? Mungkin pertanyaan pertanyaan awal akhir itu yang sederhana danbiasanya berhasil, tidak bagi masalahku ini. Ketika pun berusaha mengeluarkan jawaban atas pertanyaan pertama misalnya. Jawaban itu juga terayikini sebagai masalahantara awal dan akhir. Ketika maslaah akhir coba juga dipaparkan, kok masalah itu sepertinya bukan sesuatu yang baru bukan saja sesuatu yang baru saja ya? Tetapi sesuatu masalah yang sudah familiar dan sudah berlangsung lama. Hingga terbersit mungkin inikah masalah awalnya?
Tidak lalu berputus asa, maka ingat lagi akan ansehat seorang teman dalam memetakan masalah. “sentuhlah masalah itu dengan sentuhan yang sama. Masalah yang satu tidak lebih penting dari masalah yang lainnya.” Mengikuti nasehat bijak ini, aku pun mencatat semua masalah yang ada dalam pikiranku. Semuanya kurasa karena sudah banyak sekali hingga kertas kecil kecil yang aku gunakan tidak lagi cukup dan aku sudahi saja dan mengikuti nasehat teman tadi lagi, coba menyentuhnya dengan sentuhan yang sama.
Kertas yang satu pertama yang diambil acak yang paling dekat dengan jangkauan tanganku, kuambil. Baru baca tiga pertama dalam rumusan masalah itu, di pikiranku sudah berkembang ribuan masalah lain. Haruskan kubuat juga rumusan yang ribuan itu? Bagaimana nanti nasib rumusan yang sudah berserakan di rumahku tadi?
Putus asa untuk kesempatan ini, maka aku mengambil semua kertas masalah tadi memasukkannya dalam satu amplop masalah dan menyimpannya dalam sebuah dus masalah dan berjanji akan menengoknya lagi nanti. Nanti, ntah kapan. Tapi tak berjanji akan mengikuti nasehat teman untuk menyentuhnya dengan sentuhan yang sama guna mencari masalah strategis yang dengan sentuhan sedikit saja lebih didahulukan akan menyelesaikan masalah yang lain.
Kubangan kubangan benang masalah ini masih sangat menarik untuk ditarik, dikeluarkan, disimpan, ditarik lagi, dikeluarkan lagi dan disimpan SAJA.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar