ada seorang teman yang bilang bahwa jakarta itu semuanya ga jelas. semuanya ga konsisten semuanya semrawut semuanya rumit. yang ada hanya stress, ketegangan, amarah dan sebagainya dan sebagainya.
-- dan saya rasa ini benar..
sebagai salah satu ciri kota besar adalah ke individualisan orang-orangnya. benarkah? kalau iya, orang0orang nya yang mana?
kalau yang dimaksud disini adalah penghuni pondok indah mungkin benar. jarak bangunan rumah mereka ke pagarnya aja mungkin 10 meter sendiri. dan kalau ruma htetangga mereka juga sama, itu artinya jarak dua rumah itu sebenarnya adalah 20 meter. walaupun pagar mereka menyatu. jadi bisa dikata wajar kalau mereka saling tidak kenal atau lebih tepatnya tidak mau kenal tetangganya dan ini mungkin yang dimaksud dengan individualis itu.
lalu bagaimana dengan orang yang hidup di perkampungan miskin jakarta? dengan luas rumah yang terkadang hanya mencapai 10 m2, dan itu pun di lantai duanya dihuni oleh keluarga lain, maka mungkinkah masih akan ada sifat keindividuannya?
ada hal penting yang harus kita ingat bahwa, kota sebagai satu ruang, tidak hanya dihuni oleh orang-orang kaya saja. ada juga orang miskin, yang bekrja di rumah orang kaya tersebut mungkin, atau yang tersebar di ribuan sektor ekonomi informal (pengamen, pedagang kaki lima, pengemis dll) --> tentunya kita lupakan sejenak "keabsahan keberadaan mereka" menurut undang undang atau mata pemerintah. jadi ketika mau mengulik tentang orang-orang kota, orang-orang miskin ini juga harus dimasukkan.
kembali ke orang miskin yang menempati ruang kurang lebih 10 m2 tadi.
walau pun tetangga mereka tidak berjarak dengan mereka, sering malah kamar tidur mereka berdampingan dan hanya terpisah oleh satu lembar triplek tipis, tetapi mereka tidak saling kenal. mereka jarang ngobrol. atau mungkin komunikasi mereka lewat perang suara desahan ketika bersenggama dengan pasangannya masing-masing?
pernah suatu ketika, saat aku melakukan sebuah pemetaan kampung di kawasan miskin ini, ketika ditanya tentang tetangganya sendiri yang jarak rumah mereka adalah 0 mm, untuk semua pertanyaan yang aku ajukan jawaban mereka adalah TIDAK TAHU.
kalau kita kembali coba menimbang pepatah sosial lama yang bilang bahwa manusia itu makluk sosial yang kodratnya adalah hidup bermasyarakat, tidak bisa sendiri -- masih berlakukah dalam kasus ini?
interaksi mereka dengan tetangga mungkin hanya ketika ke warung. itu saja. selebihnya hidup mereka ada di balik triplek rumah luas 10 m2 mereka.
jadi mungkinkah kita tarik sebuah kesimpulan (yang aku yakin bukanlah final) bahwa individualisme atau sosialisme itu tidak tergantung pada "status", pada "kepemilikan"..
dua-duanya adalah universal..dan atau malahan kodrati dimiliki oleh semua orang?
MISKIN / KAYA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar