“ Ada no suratnya”. Itu kalimat yang diucapkan seorang bapak tua ketika ia bertemu pak Udin, ketua RT setempat. Pak Udin yang sedang memperbaiki sapunya pun segera keluar menyongsong si bapak tua tadi. Aku hanya melihat dan menguping pembicaraan mereka dari halaman rumah pak Udin. Ada masalah serius sepertinya. Si bapak tua bercerita bahwa ada surat pemberitahuan di bagannya, bahwa ia harus membongkar bagan tersebut dalam waktu 7 x 24 jam terhitung tanggal 13 sampai dengan 20 Pebruari 2008. Pak Udin kemudian bertanya, “lalu mau bagaimana?”. Si bapak tua itu tidak langsung menjawab. Agak lama terhenti baru kemudian ia menjawab, “yaa..ga tau lah..”. Setelah itu aq tidak mendengar lagi pembicaraan mereka.
Selang beberapa lama, pak udin masuk ke halaman rumahnya dan aku langsung mengonfirmasi apa yang baru saja aku dengar.
Yup ternyata benar. Ada surat peringatan yang diletakkan langsung di bagan-bagan nelayan. Namun sayang waktu itu aku tidak bisa melihat langsung surat edaran tersebut.
Berita ini ternyata, membuat ‘keributan’ di kampung Kamal Muara. Semua orang membicarakannya atau mengetahui tentang hal itu. Seperti Irma misalnya. Irma yang sekarang tengah duduk di bangku kelas dua SMP, mengatakan bahwa ia mendengar bapaknya bercerita tentang hal ini kepada ibunya. Menurut Irma, bapaknya yang berprofesi sebagai penjual ikan, tentunya sangat bergantung pada nelayan. Kalau nelayan sudah tidak dapat ikan lagi, lalu apa yang akan dijual bapaknya? Lalu dengan apa mereka sekeluarga akan membeli makanan? Lalu dari mana Irma akan mendapatkan uang, kurang lebih Rp.3 000,- untuk ongkos mobil ke RISMA (nama sekolahnya) yang berada di Tegal Alur? Llau darimana Irma akan mendapat uang untuk membayar uang sekolahnya, yang kemarin-kemarin juga sudah sering telat? Apakah dia harus berhenti sekolah?
Mengenai ancaman penggusuran lahan tempat tingalnya sebagai akibat dari penggusuran ‘bagan’ ditanggapi Irma dengan tegas. “Ya janganlah! Kami sudah lama disini. Teman-teman disini semua. Kalau mau pindah mau pindah kemana? Ga tau. “ dan ketika aku tanyakan pendapatnya jika sudah tidak ada jalan lain. Mereka sudah tidak bisa apa-apa lagi dan terpaksa pindah, lalu bagaimana? Irma dengan nada yang sedikit tinggi dibanding sebelumnya mengatakan, “ ya Pemerintah harus sediakan tempat baru untuk kami semua. Saya tidak mau pindah sendiri-sendiri dan terpisah dari orang kampung sini, harus bareng-bareng terus. Sekolahnya juga harus bareng. Dan bapak-bapak kami juga harus ada kerjaan. Tidak boleh menganggur”.
Lain Irma, lain juga dengan ibu-ibu yang sedang duduk-duduk di warung, di sebelah Kelompok belajar Anak (KBA) Sumbangsih. Dua ibu-ibu ini secara penampilan bertolak belakang. Yang satu ‘bersih’ memakai perhiasan emas di leher dan gelang. Satunya lagi, si ibu itu terlihat kumuh dan sendal jepit yang dipakainya pun terlihat bercampur lumpur yang cukup banyak. Sambil menunggu anaknya yang tengah belajar di KBA, mereka terlibat pembicaraan mengenai surat peringatan tadi. Dari pembicaraan mereka yang tertangkap, mereka tahu bahwa semua bagan yang ada di laut harus sudah dibersihkan sebelum tanggal 20. kalau tidak, ya aparatlah yang akan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar