Tampilkan postingan dengan label ini itu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ini itu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 November 2010

AKU, SEORANG & SEORANG ITU...

Aku ga peduli orang mau bilang apa.. yang aku rasakan sekarang adalah begini. Rasa yang kuat dan semakin hari semakin kuat. Menguat dari satu aku. Menguat ke seorang.

Pastinya dia adalah seorang yang luar biasa dimataku. Karena kalau dia Cuma biasa saja di mata ditambah di pikiran dan di hatiku, tentu aku tidak akan begitu tertarik dengannya. Cuma dua hari berlangsung yang pertama itu. Hanya melihat dari jauh. Tidak ada percakapan pun sekedar teguran. Pertemuan berikutnya juga dalam rangkaian resmi, sehingga tidak ada apa pun yang akan terjadi. Tetap seperti yang pertama kali. Apakah karena dua kali pertemuan itu berlangsung di tempat yang sama, ditambah lagi dengan posisi duduk kami yang juga sama dengan pertemuan yang terdahulu.

Waktu, tak usah diperdebatkan pasti berlalu. Orang bilang kerasa lebih cepat waktu akhir-akhir ini atau malah orang loyo dan stuck di kerja yang membosankan bilang bahwa waktu berjalan sangat lambat. Apa pun itu, orang bilang, orang rasa. Sedang waktu sedemikian angkuh, tidak bergeming. Tidak menuruti permintaan orang-orang yang menginginkan ia lambat atau cepat, atau supercepat.

Dalam kurun waktu yang cukup panjang, 4 atau 5 bulan, aku kembali bertemu dengan orang itu. Di tempat yang sama, tapi dalam kegiataan yang tidak seformal pertemuan pertama kami. Teguran mulai terasa. Namun percakapan masih tidak. Diakhir pertemuan dia menyebut namaku, lirih dan ketika aku bertanya “ ya..?”, dia mengalihkan dan berlalu. Sedikit jarak waktunya dengan itu, kembali kita bertemu. Suasana sudah tidak formal. Sudah tidak kaku, sudah banyak percakaapn. Teguran juga bukanlah yang luar biasa sekarang..

Rasa semakin datang, semakin kuat. Ketika makin kenal ia makin berat timbangan rasa ini arahnya ke dia. Ada banyak hal kita lakukan bersama. Ada banyak hal kita bagi, dan rasa semakin tebal buku harian mencatat namanya, atau pun mendokumentasikan kenangan besamanya. Rasa semakin kuat, sampai timbul keinginan untuk menyatukan rasa. Rasanya dan rasaku tentunya. Ada di mimpi malam, sering tanpa sadar, pun hadir di mimpi siang tatkalaku dalam sadar.

Rasapun berpelangi. Ingin kecapi semua warnanya. Namun rasa warna satu terasa sangat tidak pernah membosankan. Ingin berlama-lama disana, karena bersama dia. Karena ia ikut, langsung, tidak langsung, singgah bersama dia-dia yang lain atau pun ia hanya dari ketak ketik komputer. Namun rasa, ada bau dia. Bagiku. Dan mungkin hanya aku di teritori ini.

Rasaku dan rasanya tetap disana. Ttep dalam mimpi. Tak nyata. Tak ada aplikasinya.
Rasa itu kemudian mulai kabur, mulai menghilang. Ia bersama rasanya yang legal. Ia memadu rasa dengan tawa-tawa yang hadist. Tidak apa-apa. Rasa itu hilang, tapi kemudian tumbuh rasa dalam bentuk lain yang pun tetep membuat kita tetep dekat, tetap mencipta rasa bersama. Walau bukan untuk berdua, tapi untuk ratusan orang yang kita anggap harus diangkat harga mereka. Dan kita tetap mencipta rasa, menkarya rasa untuk itu, walau semakin dirasa jauuhh..




Seorang itu begitu hidup. Dari semuanya, seorang itu begitu hidup.

Umpatan memang keluar dari melihat angkuhnya di awal januari tahun lalu itu. Ingin erucap, tapi rasa pemalu di diriku mengurungnya. Tapi terobati dengan ketika ia adalah yang akan menjadi juru selamatku di hutan asing. Bukan hutan ramah dan sejukku. Tapi adalah hutan panas dan kata orang tidak ramah. Belum sampai aku ingin berucap terima kasih, ia sudah membuatku ingin berumpat.

Umpatan, dan cacian untuknya, akhirnya hanya mengendap di kepalaku. Dan menjadi dongkol di hatiku. Karena rasa yang ia tebar adalah bahagia. Rasa tawa. Rasa gembira. Tidak apa-apa ia mempermalukanku, tapi kutahu itu hanya untuk tumbuhkan rasa tawa di aku dan atau pun di semua orang tidak apa-apa saja.

dari rasa tawa, dan dari tindakan mempermalukanku itu, kita bdua pun mencipta rasa teman. Semua cerita dibagi, semua tawa juga dibagi. Dalam hal ini, waktu tidak begitu dipedulikan .mau cepat atau lambat, yang tercipta tetap adalah rasa tawa dan bahagia. Sehingga waktu seperti dilupakan.

Selalu tawa yang menjadi latarnya. Tetapi yang berlaku di depan adalah sedih, gundah umpatan dan tangis. Dan aku akan selalu kembali ke belakang , ke latar, ke tawa. Dan dia sealu ada di situ.
Kita disitu, berlama-lama. Untaian-untaian rasa berobah. Bertolak. Tapi ada yang smaa yaitu tawa.

Rasa untuk menyatu juga mulasi tercipta. Hanya ingin selalu mencipta rasa tawa, walau sebenarnya yang ku inginkan hanyalah dekat dia. Seribu dua alasan pun di perdengarkan. Dan ia selalu mau. Mencipta rasa berdua.

Sekarang, rasa itu memang sudah satu,. Sudah bullat. Sudah tak ada batas. Sudah sanagt menggunung. Gunung rasa itu pun sudah mengeluarkan magmanya, mengeluarkan larvanya dan mengaliri kami. Membuat rasa semakin lengket, membuat rasa tidak mau dan tidak diperbolehkan dan tidak mau dikeluarkan izinnya untuk pergi.

Rahasia. Rahasia sendiri, rahasia berdua atau pun rahasia umum. Prinsipnya, tidak boleh diketahui oleh orang lain. Tidak boleh ada yang ikut ambil peran dan membuat rahasia itu tida menjadi constanta lagi.

Rasa ku dan dia adalah rasa rahasia. Rasa rahasia berdua. Yang lain, awas kalau ikut campur, yang lain tidak boleh melongok dan sekedar melhat apa yang tengah terjadi..? walau dia yang berekor banyak yang juga tempatmu pernah menyatu rasa, pernah mencipta karya rasa? Tidak bole!

Rasa ini rahasia. Rasa kita. Rasaku dan rasa seorang itu.

Rabu, 17 Maret 2010

masalah...

Masalah
Seorang teman baik mengirimkan sebuah pesan singkat namun kaya makna dan menayangkan film panjang hari hari hidup yang telah lewat dan membuatku merumuskan kembali langkah dan rencana serta arah untuk hari esok.
“ sudah banyak masalah. Jangan buat masalah lagi ya.”
Begitu pesan singkat itu. Yep. Sudah sangat banyak masalah yang timbul karena diri ini. Masalah yang membuat takut diri ini, membuatr malu semua keluarga membuat bangga orang lain. Masalah yang berimbas dan menciprati orang orang di sekitarku dengan berbagai motif dan warna cipratannya. Masalah yang menimbulkan reaksi marah sesaat, marah terus menerus dan tidak berhenti henti. Masalah yang menimbulkan tangis dalam pada kedua orang tua. Masalah yang diabaikan olehku imbasnya, karena kesombongan diri. Masalah yang membuat perjalanan hidup ini berubah.
Namun, ketika sekarang ingin mengutarakannya lagi dan ingin menguraikannya lagi, BINGUNG!!bingung karena masalahnya sudah saling bertaut, saling berhubnugan, tidak lagi berhubungan sebab akibat, tapi sebab sebab atau sehingga sehingga. Membuat masalah ini menjadi kumpulan benang basah di dalam sekam yang coba disatukan.
Masalah mana sih yang duluan? Masalah mana yang paling belakangan muncul? Mungkin pertanyaan pertanyaan awal akhir itu yang sederhana danbiasanya berhasil, tidak bagi masalahku ini. Ketika pun berusaha mengeluarkan jawaban atas pertanyaan pertama misalnya. Jawaban itu juga terayikini sebagai masalahantara awal dan akhir. Ketika maslaah akhir coba juga dipaparkan, kok masalah itu sepertinya bukan sesuatu yang baru bukan saja sesuatu yang baru saja ya? Tetapi sesuatu masalah yang sudah familiar dan sudah berlangsung lama. Hingga terbersit mungkin inikah masalah awalnya?
Tidak lalu berputus asa, maka ingat lagi akan ansehat seorang teman dalam memetakan masalah. “sentuhlah masalah itu dengan sentuhan yang sama. Masalah yang satu tidak lebih penting dari masalah yang lainnya.” Mengikuti nasehat bijak ini, aku pun mencatat semua masalah yang ada dalam pikiranku. Semuanya kurasa karena sudah banyak sekali hingga kertas kecil kecil yang aku gunakan tidak lagi cukup dan aku sudahi saja dan mengikuti nasehat teman tadi lagi, coba menyentuhnya dengan sentuhan yang sama.
Kertas yang satu pertama yang diambil acak yang paling dekat dengan jangkauan tanganku, kuambil. Baru baca tiga pertama dalam rumusan masalah itu, di pikiranku sudah berkembang ribuan masalah lain. Haruskan kubuat juga rumusan yang ribuan itu? Bagaimana nanti nasib rumusan yang sudah berserakan di rumahku tadi?
Putus asa untuk kesempatan ini, maka aku mengambil semua kertas masalah tadi memasukkannya dalam satu amplop masalah dan menyimpannya dalam sebuah dus masalah dan berjanji akan menengoknya lagi nanti. Nanti, ntah kapan. Tapi tak berjanji akan mengikuti nasehat teman untuk menyentuhnya dengan sentuhan yang sama guna mencari masalah strategis yang dengan sentuhan sedikit saja lebih didahulukan akan menyelesaikan masalah yang lain.
Kubangan kubangan benang masalah ini masih sangat menarik untuk ditarik, dikeluarkan, disimpan, ditarik lagi, dikeluarkan lagi dan disimpan SAJA.***