Aku ga peduli orang mau bilang apa.. yang aku rasakan sekarang adalah begini. Rasa yang kuat dan semakin hari semakin kuat. Menguat dari satu aku. Menguat ke seorang.
Pastinya dia adalah seorang yang luar biasa dimataku. Karena kalau dia Cuma biasa saja di mata ditambah di pikiran dan di hatiku, tentu aku tidak akan begitu tertarik dengannya. Cuma dua hari berlangsung yang pertama itu. Hanya melihat dari jauh. Tidak ada percakapan pun sekedar teguran. Pertemuan berikutnya juga dalam rangkaian resmi, sehingga tidak ada apa pun yang akan terjadi. Tetap seperti yang pertama kali. Apakah karena dua kali pertemuan itu berlangsung di tempat yang sama, ditambah lagi dengan posisi duduk kami yang juga sama dengan pertemuan yang terdahulu.
Waktu, tak usah diperdebatkan pasti berlalu. Orang bilang kerasa lebih cepat waktu akhir-akhir ini atau malah orang loyo dan stuck di kerja yang membosankan bilang bahwa waktu berjalan sangat lambat. Apa pun itu, orang bilang, orang rasa. Sedang waktu sedemikian angkuh, tidak bergeming. Tidak menuruti permintaan orang-orang yang menginginkan ia lambat atau cepat, atau supercepat.
Dalam kurun waktu yang cukup panjang, 4 atau 5 bulan, aku kembali bertemu dengan orang itu. Di tempat yang sama, tapi dalam kegiataan yang tidak seformal pertemuan pertama kami. Teguran mulai terasa. Namun percakapan masih tidak. Diakhir pertemuan dia menyebut namaku, lirih dan ketika aku bertanya “ ya..?”, dia mengalihkan dan berlalu. Sedikit jarak waktunya dengan itu, kembali kita bertemu. Suasana sudah tidak formal. Sudah tidak kaku, sudah banyak percakaapn. Teguran juga bukanlah yang luar biasa sekarang..
Rasa semakin datang, semakin kuat. Ketika makin kenal ia makin berat timbangan rasa ini arahnya ke dia. Ada banyak hal kita lakukan bersama. Ada banyak hal kita bagi, dan rasa semakin tebal buku harian mencatat namanya, atau pun mendokumentasikan kenangan besamanya. Rasa semakin kuat, sampai timbul keinginan untuk menyatukan rasa. Rasanya dan rasaku tentunya. Ada di mimpi malam, sering tanpa sadar, pun hadir di mimpi siang tatkalaku dalam sadar.
Rasapun berpelangi. Ingin kecapi semua warnanya. Namun rasa warna satu terasa sangat tidak pernah membosankan. Ingin berlama-lama disana, karena bersama dia. Karena ia ikut, langsung, tidak langsung, singgah bersama dia-dia yang lain atau pun ia hanya dari ketak ketik komputer. Namun rasa, ada bau dia. Bagiku. Dan mungkin hanya aku di teritori ini.
Rasaku dan rasanya tetap disana. Ttep dalam mimpi. Tak nyata. Tak ada aplikasinya.
Rasa itu kemudian mulai kabur, mulai menghilang. Ia bersama rasanya yang legal. Ia memadu rasa dengan tawa-tawa yang hadist. Tidak apa-apa. Rasa itu hilang, tapi kemudian tumbuh rasa dalam bentuk lain yang pun tetep membuat kita tetep dekat, tetap mencipta rasa bersama. Walau bukan untuk berdua, tapi untuk ratusan orang yang kita anggap harus diangkat harga mereka. Dan kita tetap mencipta rasa, menkarya rasa untuk itu, walau semakin dirasa jauuhh..
Seorang itu begitu hidup. Dari semuanya, seorang itu begitu hidup.
Umpatan memang keluar dari melihat angkuhnya di awal januari tahun lalu itu. Ingin erucap, tapi rasa pemalu di diriku mengurungnya. Tapi terobati dengan ketika ia adalah yang akan menjadi juru selamatku di hutan asing. Bukan hutan ramah dan sejukku. Tapi adalah hutan panas dan kata orang tidak ramah. Belum sampai aku ingin berucap terima kasih, ia sudah membuatku ingin berumpat.
Umpatan, dan cacian untuknya, akhirnya hanya mengendap di kepalaku. Dan menjadi dongkol di hatiku. Karena rasa yang ia tebar adalah bahagia. Rasa tawa. Rasa gembira. Tidak apa-apa ia mempermalukanku, tapi kutahu itu hanya untuk tumbuhkan rasa tawa di aku dan atau pun di semua orang tidak apa-apa saja.
dari rasa tawa, dan dari tindakan mempermalukanku itu, kita bdua pun mencipta rasa teman. Semua cerita dibagi, semua tawa juga dibagi. Dalam hal ini, waktu tidak begitu dipedulikan .mau cepat atau lambat, yang tercipta tetap adalah rasa tawa dan bahagia. Sehingga waktu seperti dilupakan.
Selalu tawa yang menjadi latarnya. Tetapi yang berlaku di depan adalah sedih, gundah umpatan dan tangis. Dan aku akan selalu kembali ke belakang , ke latar, ke tawa. Dan dia sealu ada di situ.
Kita disitu, berlama-lama. Untaian-untaian rasa berobah. Bertolak. Tapi ada yang smaa yaitu tawa.
Rasa untuk menyatu juga mulasi tercipta. Hanya ingin selalu mencipta rasa tawa, walau sebenarnya yang ku inginkan hanyalah dekat dia. Seribu dua alasan pun di perdengarkan. Dan ia selalu mau. Mencipta rasa berdua.
Sekarang, rasa itu memang sudah satu,. Sudah bullat. Sudah tak ada batas. Sudah sanagt menggunung. Gunung rasa itu pun sudah mengeluarkan magmanya, mengeluarkan larvanya dan mengaliri kami. Membuat rasa semakin lengket, membuat rasa tidak mau dan tidak diperbolehkan dan tidak mau dikeluarkan izinnya untuk pergi.
Rahasia. Rahasia sendiri, rahasia berdua atau pun rahasia umum. Prinsipnya, tidak boleh diketahui oleh orang lain. Tidak boleh ada yang ikut ambil peran dan membuat rahasia itu tida menjadi constanta lagi.
Rasa ku dan dia adalah rasa rahasia. Rasa rahasia berdua. Yang lain, awas kalau ikut campur, yang lain tidak boleh melongok dan sekedar melhat apa yang tengah terjadi..? walau dia yang berekor banyak yang juga tempatmu pernah menyatu rasa, pernah mencipta karya rasa? Tidak bole!
Rasa ini rahasia. Rasa kita. Rasaku dan rasa seorang itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar