Pada sebuah pelatihan untuk para Pedila (Perempuan yang dilacurkan) yang pernah aku ikuti, tepatnya pada sesi perkenalan, semua peserta diminta fasilitator untuk menyimbolkan dirinya pada sebuah barang. Ada satu yang menarik perhatianku. Seorang peserta menyimbolkan dirinya bagai sebuah tas. Kenapa? Karena menurutnya tas, itu bisa dibawa kemana-mana (begitu juga dia). Namun tas itu juga adalah sebuah aksesoris yang difungsikan untuk mempercantik penampilan dan membuat si pemakainya tambah PD, katanya. Dengan kata lain ia mau bilang bahwa, walau pun ia bisa dibawa kemana-mana, tapi ia tidak kosong makna. Ia mempercantik, membuat orang yang membawanya lebih menarik dan lebih PD.
Dari cerita seorang teman Pedila di atas, aku bisa tarik dua hal dari tas. Tentang sifat tas yang bisa (biasanya memang) dibawa kemana-mana dan satu lagi yaitu tentang fungsi tas, untuk mempercantik / membuat lebih menarik orang yang memakainya. Itu menurutnya. Menurutku?
Tas-tasku?
Tas. Bicara tentang tas, aku sudah mengenal barang ini sejak masih duduk di taman kanak-kanak seingatku. Saat itu apa yang ada di tasku, yang adalah ransel? Tentunya bawaan wajib anak-anak TK. Bekal makanan yang disediakan ibu, peralatan tulis yang hanya berupa seperangkat krayon dan selembar sapu tangan, buat ngelap ingus.
Namun, selain bawaan wajib itu, sering aku memasukkan barang-barang lain ke tasku. Misalnya, bunga indah ayng aku temui di jalan sewaktu berangkat sekolah, beberapa lembar kertas warna warni yang aku minta dari kakakku, jepitan rambut, atau terkadang batu-batu kecil yang ntah karena aku suka bentuknya atau karena ingin menggunakannya nanti untuk bermain di sekolah juga banyak terdapat di tasku. Alhasil semua benda “tak wajib” tersebut membuat tas ranselku bertambah berat. Sering karena berat beban tas itu, aku minta tolong kakak, ibu atau paman yang mengantar jemputku ke sekolah untuk membawakannya untukku. Maaf y semua?! :P
Perihal tas pertamaku itu, aku tidak ingat menggantinya saat aku TK tersebut. Jadi aku hanya punya satu tas waktu TK, yang alhasil jadi sangat buluk ketika aku masuk ke SD.
Saat sekolah di tingkat yang lebih atas, SD sampai SMA, yang aku ingat adalah aku selalu memilih tas ransel. Dan kebiasaan waktu TK ternyata terus terbawa. Aku tidak hanya mengisi tasku dengan barang-barang wajib anak sekolah, tapi selalu saja ada barang-barang “penyusup” yang aku bawa di tasku. Ntah itu buku cerita, koleksi kertas warna warni bergambar lucu dan berbau wangi, atau pun buku pelajaran yang bukan harinya, ngumpet di tas ranselku. Alhasil tasku besar dan berat banget. Aku tak tahu apakah karena faktor itu, aku jadinya agak bungkuk dan tidak tinggi-tinggi (hahaha..ini adalah pembelaan atas kondisi fisikku yang mungil :p).
Terhadap kondisi tasku yang seperti itu, di tingkat keluarga, aku sering diwanti-wanti untuk mengurangi beban tasku. Bawa yang perlu aja, kata mereka. Tapi karena menurutku semuanya perlu, jadi tetap saja tasku mengembung dan mereka hanya bisa geleng kepala dan berlalu.
Teman-temanku juga kerap mempertanyakannya. Tapi yaa jawabanku sama. Semua barang di dalam tasku, yang wajib dan tidak wajib ada di tas seorang siswa, menurutku penting dan harus ada di tasku dan harus aku bawa.
Masa kuliah. Tetap pilihanku adalah ransel. Namun yang berbeda sekarang adalah jenis penghuni “ilegal” tasku. Selain diktat-diktat kuliah dan alat-alat tulisnya yang jadi penghuni ranselku, di sana juga akan ditemui buku organizer, yang tidak hanya aku gunakan untuk catat jadwal kuliah, tapi juga menjadi tempat koleksi kata-kata mutiara yang aku kumpulkan ntah dari majalah, buku atau internet bahkan lirik lagu yang aku dengar. Alhasil organizerku jadi tebal dan berat tentunya.
Selain itu, juga akan teronggok sebuah jaket atau sweater, buku-buku novel atau majalah (yang biasanya jumlahnya lebih dari dua buah) dan cemilan. Piuhh..dan memang perjuangan yang lumayan memikul ransel itu dari kosanku ke kampus, dari kampus ke mall, dari mall ke perpustakaan, atau dari kosan ke tempat yang belum ku kenal. Tak pernah ada niat untuk menguranginya. Alhasil setiap orang yang berpapasan denganku di jalan, sering nyeletuk “ Mau mudik neng?.” Biasanya tidak pernah aku tanggapin.
Sekarang? Saat sudah kerja dan tidak kuliah lagi, aku tetap menjatuhkan pilihan ke ransel. Karena memang tuntutan pekerjaan. Aku harus terus mobile, dari satu tempat ke tempat lainnya, dan membaw banyak cadangan materi kerjaan, laptop, cadangan baju terkadang dan makanan. Tentunya pilihannya kembali jatuh ke tas berbentuk ransel.
Sikapku terhadap tasku?
Dari TK sampai kuliah, yang aku ingat adalah aku setia dengan tas ranselku. Jarang yang aku punya dua ata tiga ransel dalam satu waktu. Pernah, saking sayangnya dengan salah satu ranselku waktu kuliah, yang aku lakukan bukan membeli yang baru, tapi malah memberi peniti. Baru ketika bolongnya sudah sangat lebar, baru beli yang baru.
Aku juga tidak suka kalau ada orang yang seenaknya membuka tasku apalagi mengacak-ngacak isinya. Walau pun itu orang yang sangat dekat denganku. Tas bagiku adalah salah satu barang privat, seperti hp misalnya, yang tentunya hanya aku yang berhak “mengoperasikannya”. Hanya aku yang berhak tahu apa isinya, bagaaimana posisi barang-barang di dalamnya; rapi teratur atau kacau berantakankah, Cuma aku yang berhak tahu. Cuma aku juga yang punya hak untuk membukanya dan mengetahui “harta karun” di dalamnya. Sampai sekarang masih seperti ini. Aku punya satu tas ransel, yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk muat segala peralatan dan cukup kokoh. Itu andalanku sekarang.
Fungsi tas menurutku?
Jika di awal, aku memperlihatkan salah satu fungsi tas bagi temenku, yaitu untuk aksesoris. Tapi bagiku tidak begitu fungsi tas.
Tas, aku gunakan untuk membawa semua peralatan yang sekiranya aku butuhkan selama aku beraktivitas. Aku tidak peduli apakah itu akn membuat penampilan jadi makin menarik atau apa. karena bukan itu toch tujuanku.
Sering tasku yang sudah kumal dan bahkan robek, bukanlah sesuatu yang bisa menambah menarik penampilan menurutku. tapi itu tidak masalah, karena aku juga bukanlah orang yang begitu peduli dengan pendapat orang lain. Selama aku tidak mengganggu mereka, apa masalahnya?
Kenapa tidak tas jenis lain?
Dari tadi, kalau disimak, jika aku menulis tas maka itu yang dimaksud adalah ransel. Ya. Hampir semua tas yang pernah aku miliki dari TK mpe sekarang, semuanya berjenis ransel. Walau pun ada yang bukan tapi jarang sekali dipakai dan tidak dipakai pada saat “prime time”.
Ransel, yang teknis pemakaiannya adalah seperti menggendong seseorang, membuatku nyaman, dan sreg aja begitu “menggendong”nya. Aku berasa, jika ia ada di tempatnya (di punggung), dengan kedua “lenggan”nya merangkul lenganku, itu akan aman. Nyaman. Dan walaupun terkadang aku “menggendongnya” di depan tubuhku, rasa aman dan nyaman memakainya tetap ada.
Aku bukannya tidak suka dengan jenis tas lain. Aku suka, tapi aku ngerasa kurang pas aja untukku. Misalnya tas selempang. Ketika memakai tas jenis ini, aku merasa tetap kurang nyaman. Karena hanya satu bagian tas (talinya) yang nempel di pundakku dan bagian lainnya (badan tas) sering ada di pinggul samping atau di depan tubuhku. Menurutku itu tidak nyaman dan merasa nggak “kokoh” aja posisi tasnya.
Kemudian tas “cewek” cangklok. Pernah aku coba pakai tas berukuran kecil ini. Aku bingung sendiri ketika memasukkan barang-barangku ke dalamnya. Alamak Cuma muat untuk satu hp dan dompet kecil yang tongpes. Bagaimana dengan barang-barangku yang bejibun? Jangankan untuk memasukkan barang-barang “ilegal”, barang ‘legal’ yang kudunya harus ada di tasku aja tidak muat. Wah emang bukan pilihan niy..
Ransel itu apasih? Searching internet
Ada hubungan pilihan jenis tas dengan kepribadianku kah?
Masa depan tas di tanganku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar