Apa yang anda lakukan di angkutan ketika sedang di kendaraan ? Tidur, baca buku, dengerin musik, ngobrol dengan teman atau orang yang deketan tempat duduknya, atau hanya memandang mandang ke luar jendela sambil tengak tengok, sambil ngayal apapun. Yang terakhir, saya tidak tahu seberapa banyak yang melakukan ini karena tidak kelihatan toh dari pandangan mata kepala saya dan karena saya juga bukan master pembaca pikiran jadi saya tidak tau. Namun ada satu orang yang saya tahu melakukannya, yaitu SAYA!
Ya. Saat di kendaraan adalah saat saya lari ke dunia imajiner dunia khayalan dunia impian dunia maya dunia pikiran semata.. banyak hal yangsaya khayalkan. Mulai dari mengkhayal apa gerangan yang akan saya hadapi di tempat tujuan saya berkendara atau pun mimpi sesuatu yang PASTI tidak mungkin akan terjadi di dunia nyata.. jadi ya di mimpiin saja toh.. Sering asyiknya dengan diri sendiri dan pikiran sendiri, saya jadi orang yang tidak ramah ke “tetangga” dalam berkendaraan. Saya sering ‘anggurin’ teman seperjalanan dan terkadang juga ‘anggurin’ kenek metro mini yang nagih ongkos (untuk yang terakhir ini tentu abangnya tidak akan membiarkan saya “tenang dengan mimpi saya”. Dengan colekan ringan namun pas, saya dibuatnya kembali ke alam nyata dan melaksanakan kewajiban sebagai penumpang yaitu membayar ongkos.)
Selain memimpi, mengkhayal atau melamun yang juga sering dan suka sekali saya melakukannya adalah Tengak tengok. Selain untuk ngingat ngingat jalan-apalagi kalau baru pertama kali kesana, juga untuk cari bahan pikiran, bahan bacaan, bahan celaan juga tentunya.. bahan yang di tenagak tengok adaloah nama toko mungkin, nama kantor mungkin, atau aktivitas yang sedang dilakukan orang di jalan dan sebagainya..
Ada beberapa hal yang masih terendap di pikiran saya sampai sekarang!
Di daerah Cikini, ada sebuah rumah makan sunda yang walau namanya mengusung “ndeso” tapi harganya” ngota”. Yang membuat saya tertarik bukan masakannya atau pun harganya. Namun banner rumah makan tersebut. Pada banner berukuran kurang lebih satu kali dua meter yang dipasang di depan rumah makan tersebut terpampanglah wajah model yang tidak biasa. Modelnya adalah petani yang sedang panen padinya atau untuk rumah maakn yang sama namun di kota lain, saya lihat model di bannernya adalah seorang petani yang sedang memikul hasil panennya. Kenapa saya langsung menghakimi bahwa orang orang yang wajahnya dipasang di banner tersebut adalah petani beneran dan bukannya model yang berlagak seperti petani? Saya tidak yakin ada model yang begitu natural, begitu alami (apalah istilahnya) untuk berperan sebagai petani dengan sangat petani. Dalam hal ini saya juga tidak yakin ada sutradara photo yang bisa mengarahkan model seperti petani “sepetani” mungkin. Jadi kesimpulan saya, wajah yang terpampang di banner raksasa itu adalah wajah PETANI BENERAN.
Namun jika saya menyangsikan ada model dan sutradara photo “yahud” di indonesia yang menghasilkan photo seperti itu, saya tidak sedikitpun menyangsingkan photographer, si tukang photo yang mengabadikan momen momen kepetanian ke dalam banner banner raksasa tersebut. Apalgi dengan pilihan BW alias hitam putih menambah Yahud bin Dahsyatnya photo photo tersebut.
Tapi, saya tidak akan mengupas sang photographer-sang tukang jepretnya, tapi mau bahas si modelnya. Si Petani.
Jujur, yang langsung terlintas dalam pikiran saya melihat banner itu adalah “ Wow keren” (photonya secara “penampakan” dan efek hitam putihnya”). Namun sedetik setelah itu, bagian lain dari pikiran atau hati saya berujar “Si modelnya dibayar nggak ya??”. Pasti untuk banner segede itu, si model yang kebetulan petani itu pasti sekarang sudah kaya. Pasti miliaranlah dibayarnya. Kok saya sok tau gitu y???!! Sebenanrnya ini me reverse ke kasus yang dulu pernah menimpa bella saphira yang model yang sering seliweran di acara gosip itu lho (nt: saya juga terkadang terpaku juga ama tayangan infotainment ini. Terpaku ama “kebadutbadutan” orang orangnya). Kembali ke bella saphira, dia pernah menuntut sebuah perusahaan besar karena memampang fotonya dalam sebuah banner iklan padahal kontraknya dengan perusahaan itu sudah usai. Dia menang waktu itu. Kalau tidak salah ingat dia berhak atas 6M kemudian.
Mungkin si model rumah makan yang kebetulan petani itu tidak semahal itu. Toh dia belum punya “nama”. Toh dia belum berbadut ria di acara acara infotainment. Tapi pastinya dibayar kan?? Ada yang bisa jawab?
Sebenarnya saya sangat menyangsikan ada yang bisa jawab pertanyaan ini. Karena mungkin memang dia tidak dibayar. Mereka itu hanya dibayar dengan anggukan kepaal saat si photografer yang mengambil fotonya selesai mengabadikan ke petaniannya. Dan mereka kemudian menikmati rasa senang dan bangga yang membuncah karena di foto itu tadi.
Apa benar perasaan dan ekspresi itu yang akan keluar dari mereka??
Pada bulan november tahun lalu aku ke sebuah kabupaten di pulau Timor, NTT. Kemudian berlanjut ke kepulauan Tanimbar Maluku Tenggara Barat, pada bulan Desember. Trus apa hubungannya dengna cerita kita? Begini. Persamaan antara dua tempat yang walau sama sama di daerah timur itu namun terpisah ribuan mil adalah mereka sangat suka di foto. Dari anak anak sampai kakek nenek. Tanpa di minta atau diarahkan mereka- yang anak anak akan bergaya ala pemain sepak bola lah, atau berdiri manis sambil tersenyum dan tatapan mereka tak lepas dari lensa kamera. Yang tua juga tak mau kalah. Baru melihat ada orang aasing di sekitar mereka saja, mereka sudah sibuk memakai kain adat mereka dan berdiri di depan rumah adat mereka. Dan si orang asing yang sebenarnya Cuma mau mengabadikan rumah adatnya saja, yaa demi menghormati tuan rumah, ikut mengambil gambar si empunya rumah adat juga. Dari pengalaman ini, saya berfikir bahwa tidaklah terlalu berlebihan kalau si model dalam banner rumah makan tersebut sama dengan anak anak atau kakek nenek di darah Timor atau Maluku ini.
Pertanyaannya kemudian adalah etiskah kalau begini? Mungkin saay akan mengesampingkan dulu pertanyaan ini. Karena batasan etis yang semakin kabur, membuat saya agak berfhati hati ke ranah tersebut.
Dari pada bertanya, dan tidak tahu juga akan dialamatkan kemana pertanyaan itu, maka saya lebih memilih mengungkapkan perasaan dan pendapat saya saja. Menurut saya, tidak minta izin atau malah tidak membayar orang orang dalam banner rumah makan itu, adalah hal yang paling masuk akal jika dilihat dari konteks kekinian masyarakat kita. Hukum pasar merambah kemana mana. Dari pasar ayam sampai pasar suara di DPR. Hukum pasar yang bagaimana kemudian? Sayangnya biukan hukum jual beli tapi hukum cari untung. Iya. Demi untung yang berlipat ganda sebanyak banyaknya banyak yang rela menginjak orang lain; dengan bayar upah rendah, fitnah terhadap pesaing atau tidak membayar saamsekali yang berkontribusi pada usahanya-contohnya ya ini si model model di banner rumah makan ini.
Demi untung besar, mereka memanfaatkan kepolosan orang lain, ketidak tahuan orang lain. Kecil sekali kemungkinan bahwa si model dalam banner itu bisa melihat wajah wajah mereka dijual di pinggir jalan sebuah jalan elit di kawasan elit kota jakarta dan kemudian menuntut si pemasang banner tersebut.
Mereka menyebut ini hak mereka kah? Hak mencari untung sebesar besarnya walau dengan cara negecilkanarti dan diri orang orang lain? Tidakkah mereka juga sadar bahwa hak si model pada banner rumah makan itu juga untuk dihargai, bukan hanya denga imbalan uang karena pemanfaatkan diri mereka tapi lebih dari itu. Bahwa diri dan wajah asli petani mereka bukan senjata pemasaran, bukan barang dagangan, bukan wajah wajah mengemis untuk kemudain diganjar uang segepok. Bukan!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar