“Satu ditambah lima berapa?”, suara Fitri melengking tinggi mencoba mengalahkan suara riuh dua puluh orang bocah di ruang belajar kecil dan sumpek milik KBA Kampung Tebu ini. Tak ada suara spontan yang menjawab pertanyaan matematika tersebut. Dua puluh orang bocah di dalam ruangan belajar kecil dan sumpek milik KBA Kampung Tebu ini sibuk dengan sepuluh jari mereka sambil menggumamkan jampi-jampi, berharap menemukan ilham dan menjawab pertanyaan Fitri sang ibu guru yang dengan suara garang menanyakan pertanyaan satu ditambah lima berapa. Kemudian, dua puluh orang bocah di ruang belajar kecil dan sumpek milik KBA Kebon Tebu ini mendapat ilham berbarengan dan berbarengan juga mereka meneriakkan jawaban mereka. “ Enaaaaaam”, teriak dua puluh bocah di ruang belajar kecil dan sumpek milik KBA Kampung Tebu ini. Jawaban itu membuat Fitri sang ibu guru yang dengan suara garang menanyakan pertanyaan matematika tadi senang. Umur dua puluh orang bocah di ruang belajar kecil dan sumpek millik KBA Kebon Tebu ini berkisar empat hingga enam tahun. Ruang kecil dan sumpek milik KBA Kebon Tebu ini bagi mereka adalah tiket untuk berotak, itu kata ibu-ibu mereka. Berotak karena dari ruang belajar kecil dan sumpek milik KBA Kampung Tebu ini dua puluh orang bocah itu mendapat ilmu kata ayah-ayah mereka. Fitri sang ibu guru dengan suara garangnya dan Pegi sang ibu guru dengan tampang galaknya memberikan ilmu tentang tambah menambah kurang mengurang kali mengali bagi membagi dan juga eja mengeja baca membaca. Cukup itu saja yang dibutuhkan oleh dua puluh bocah di ruang belajar kecil dan sumpek milik KBA Kampung Tebu untuk mempunyai otak kata tetangga tetangga mereka.
Di saat seribu bocah lain yang seumuran dengan dua puluh orang bocah di dalam ruang belajar kecil dan sumpek milik KBA Kebon Tebu terkantuk kantuk menerima ilmu dari para ibu guru necis dan wangi dan bersepatu hak tinggi dan terkadang memakai jas mahal di sekolah-sekolah mahal juga, dua puluh orang bocah di dalam ruang belajar kecil dan sumpek milik KBA Kebon Tebu asyik bermain-main di air comberan di depan rumah mereka di kali penuh taik di samping rumah mereka atau di danau racun di belakang rumah mereka. Bermain, hanya itu yang bisa dilakukan oleh dua puluh bocah di dalam ruang belajar kecil dan sumpek milik KBA Kebon Tebu itu di jam-jam yang seharusnya mereka berada di sekolah, kata bapak-bapak di departemen pendidikan kita. Hanya bermain, tidak bisa ke sekolah, tidak bisa duduk di kelas, tidak bisa...
Mendengar suara lengking Fitri sang ibu guru dan melihat wajah garang Pegi sang ibu guru juga merupakan sesuatu hal menyenangkan bagi dua puluh orang bocah di dalam ruang belajar kecil dan sumpek milik KBA Kebon Tebu, sebagai refreshing dari kejenuhan mereka bermain. Antusias, semangat, bergairah tak pernah lelah, tak pernah takut, tak pernah malu, tak pernah sebal ke guru-guru sangar mereka itulah yang ditunjukkan oleh dua puluh orang bocah di dalam ruang belajar kecil dan sumpek milik KBA Kebon Tebu itu.
Dengan modal sebesar itu tentunya mereka layak menjadi dua puluh orang yang berotak. Dengan ruang belajar kecil dan sumpek milik KBA Kebon Tebu bukankah itu sedikit mimpi. Dengan guru-guru seperti Fitri sang guru dengan suara lengking dan Pegi sang guru dengan tampang sangar, terlihat jauh api dari panggang.
Modal yang sudah besar tapi tidak berdaya karena di tangan orang-orang dan tempat yang salah. Yang realistis sepertinya, dua puluh orang bocah di ruang belajar kecil dan sumpek milik KBA Kebon Tebu akan menjadi dua puluh orang tidak berotak. Kata tukang ramal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar