Senin, 27 Desember 2010

Urbanisasi

Sejarah urbanisasi
Urbanisasi awalnya disebabkan karena munculnya revolusi Industri pada 1769 akibat penemuan system mesin oleh James Watt yang secara berlipat meningkatkan kapasitas produksi tekstil dari semula bukan mesin. Penemuan demikian diikuti oleh penemuan teknologi berikutnya seperti system kendaraan di atas rel, kapal laut bermesin, gerobak roda empat bermesin, penemuan system listrik, pesawat terbang, satelit, computer serta produk turunannya dan seterusnya.
Sejak itu, maka selain kebutuhan hidup manusia menjadi meningkat, pada saat yang sama variasi jenis lapangan kerja manusia juga semakin meluas. Sesuatu yang sangat jauh berbeda dibanding masa sebelum ditemukannya system mesin oleh Watt.
Bila semula kesempatan kerja umumnya terbatas hanya sejauh lingkungan desa, sejak itu mulai muncul fenomena baru “ perjalanan ke tempat kerja”, karena mobilitas manusia dan tempat kerjanya tak lagi hanya sebatas lingkup desa yang sama atau sekedar pada “desa sebelah”, namun bahkan sampai sejauh 70 km atau lebih pada kota lain pulang balik setiap hari dengan kendaraan darat baik di atas rel atau jalan tol, atau bahkan sejauh ribuan kilometer dengan pesawat udara seperti untuk pekerjaan pekerjaan awak pesawat, pejabat pejabat itnggi Negara atau swasta, wartawan dan sebagainya. Variasi kesempatan kerja manusia sejak itu tak lagi hanya sebatas lingkup “desa”, namun terbanyak justru pada lingkup kota.



Diagram 1:
Pola perpindahan penduduk di Negara maju sejak lahirnya Revolusi industry (1769) sampai akhir abad 19 (1850-1900)










Diagram 2:
Pola perpindahan penduduk di Negara maju sejak pertengahan tahap kedua pembangunan daerah (1900-…)
Urbanisasi dan kemunduran pertanian?

Sampai hari ini untuk masalah “ pengentasan kemiskinan” kita masih berdebat tentang perlu tidaknya mengaitkan pembangunan pertanian, pedesaan dan wilayah tertinggal dengan pembangunan system kota dan menciptakan sebanyak banyaknya masyarakat kelas menengah. Sementara itu penduduk di inggris sejak tahun 1900 telah sebanyak 80% tinggal di perkotaan dan tak terdengar di sana terjadi kemunduran pembangunan pertanian sehingga bahan makanan harus diimpor.
Sampai hari ini Inggris masih tetap merupakan salah satu pengekspor alat alat industry pertanian modern utama di dunia, menandakan bahwa pembangunan pertanian di sana tidak surut, namun dimodernisasikan. Di Australia, AS, Jepang dan Belanda atau banyak Negara maju lainnya jumlah petani merosot, namun produksi pertanian justru semakin meningkat. Uraian ini kiranya dapat menjawab pro kontra masalah urbanisasi.(?)
Urbanisasi sebagai fakta arus nasional tak terbendung

Urbanisasi sebagai arus nasional oleh Negara maju diakomodasikan, dikelola dan disalurkan pada system persebaran perkotaan yang merata di seluruh negeri. kondisi ini selain tak merusak justru membawa kemajuan ekonomi social.

Di banyak Negara berkembang, khususnya karena pengaruh “agropolitan” dari Friedmann dan Douglass (1975) yang sangat membela pertanian dan desa (namun mencerca habis sains perencanaan kota) dimana kala itu tingkat urbanisasi di Asia memang masih sangat rendah (dibawah 20%) dan dikatakan bahwa “Asia tak pantas membangun hierarki kota dan hanya perlu membangun agropolitan (kota di ladang) saja”. Akibat pengaruh itu cukup tragis. Sampai hari ini pandangan itu tetap dianut secara luas di Indonesia, padahal tingkat urbanisasi kini (2005) 40% dan akan menjadi 60% pada 2025 (Bappenas dan PBB).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar