Senin, 27 Desember 2010

Minggu pagi di Victoria park: Family tale with migrant workers frames



Karya: Lola Amaria
Pemain: Lola Amaria,
Titi Sjuman,
Donny Damara

Sinopsis
Sekar, seorang perempaun jawa muda, bekerja sebagai eorang pekerja migrant di hongkong. Dia “berhasil” sebagai seorang pekerja migrant, buktinya dia selalu rutin mengirimi orang tuanya uang sehingga bias membeli handphone, nyicil motor dan juga renovasi rumah. Tapi, beberapa lama kemudain, Sekar tidak lagi mengirimi keluarganya atau pun sekedar memberikan kabar.

Bapaknya pun berinisitaif untuk menyuruh kakanya Sekar, mayang, untuk mencari Sekar ke Hongong dengan menjadi pekerja migrant juga di sana. Sebenarnya Mayang tidka mau dan tidak peduli dengan Sekar, akrena dari kecil dia merasakn bahwa ayahnya memperlakukan dia dan Sekar adiknya secara berbeda, karena sekar selalau juara sedang ia tidak. Dan Mayang juga berpikir bahwa sekar itu lebih menarik dan semua laki laki yang lihat pasti suka, sedang dia tidak. Dan pun ketika sudah dewasa dan sekar kerja di hongkong dan “berhasil” sementara ia hanya jadi buruh di kebun tebu dengan upah yang sangat sedikit, bapaknya makin menyudutkannya sebagai anak ayng tidak bias apa apa, tidak bisa membahagiakan orang tuanya. Tapi karena dipaksa dan bapaknya juga sudah mendaftarkannya secara diam diam ke pjtki di kampungnya, maak dengan terpkasa mayang bernagkat ke hongkong jadi pekerja migrant sambil mencari sekar.

Di hongkong, mayang antara niat nggak niat cari sekar, karena latar belakang hubnugan mereka tadi d dan perlakuakn bapak merea tadi. Tapi sampaisuatu ketika, dia mengetahui bahwa sekar terlilit hutang di super kredit dan melakuakn segala cara untuk bias melunasi hutagnya, mayang mulai sadar dan juga nggak bias nerima kaalu adiknya, ayng dia “benci”, yang kesayangan bapaknya, melakukan pekerjaan tak “bermoral”, jadi pedila. Dia sanagat shock dan tidak bias membayangkan perasaan dan hati bapaknya jika tahu bahwa anak kebabggaannyaSEAKR BEGITU, HANCUR. MaYANG mula isadr bahwa ternyata ia sebenarnya sangat saying kepada sekar, dan selama ini dia Cuma cembru. Dan dia pun dengan bersungguh sdungguh mencari sekar.
Mayang menemukan sekar di kanar mandi flatnya saat mencoba bunuh diri. Namun mayang berhasil meyakinkan sekar bahwa ia masih berguna, masih banyak ayng saying dia termasuk dirinya sendiri dan mereka semua bersedia membantu sekar.
Akhrinya sekar lepas dari jeratan hutang dan berniat kembali ke Indonesia. Sedangkan mayang masih di hongkong kaerena kontraknya belum berakhir.

Menjadi pekerja migrant untuk mencari anggota keluarga: sebuah alasan baru!
Memilih bekerja kelaur negeri jadi walau hanya jadi pekerja rumah tangga, umum dipilih karena merasa sudah tidka ada harapan secara ekonomi lagi di indoensia. Lapangan kerja yang tidak ada, lapangan kerja yang tidka sesuai dengan kapasitas mereka hingga bayaran yang tidka seimbang dengan pekerjaan. Mereka, umumnya permpaun berbondong mendaftar ke pjtki untuk bisa kerja di laur negeri, dengan bekal seadanya dari pjtki namun dengna modal duit yang jutaan untuk mendaftar. Permpuan perempaun ini adalah anak abahkan suami dan ibu dari seseorang. Mereka yang bernagkat karnea mereka tidak mau nyusahin kelaurga ayng lain terus maalhan ingin menyenagkan kelauerga. Inni adalah alas an alas an uum kenapa seseorang memiloih bekrja di kluar negeri.

Dalam film Minggu Pagi di Victoria Park, ada alsan lain yang terlihat. Mayang dipaksa bapaknya kerja kelaur negeri bukan karena bapaknya ingin mayang mencari aung terus megnirimkannya pulang, tapi karena bapaknya ingin mayang mencari adiknya sekar ayng sudah terlbih dahulu menjadi pekerja migrant di hongkong namun sudah lama tidka ada kaabr.

Melihat hal ini, sontak pikiran saya beralih ke cerita cerita di Koran, dari teman ngo atau teman teman pekerja migrant sendiri bahwa banyak pekrja migrant kita yang tidak jelas kabarnya di laur negeri. Dan yang umum terjadi, ada kaabrnya jika sudah menjaadi mayat. Ini juga mungkin satu kekhawitran bapak mayang, sehingga sangat memaksa mayang untuk ke luar negeri. Dengan asumsi, kaalu mayang jadi pwekerja migrant sama seperti sekar dulu, kemungkinankan akan bergaul di lingukgna yang sama dan dengan ini diandaikan lebih gampang bertemu atau mendapatkan informasi tentnag sekar.

Jadi mungkin, dari jutaan perempuan indoensai yang menajdi peekrja migrant di laur negeri, bukan hal yang mustahi banyak diantara mereka bernagkat dengan alas an untuk encari anggota kelaurga mereka yang juga jadi pekerja migrant tapi tak ada kabarnya lagi. Dan jika pun minta informasi ke pjtki yang memberangkatkan, mereka lepas tangan.

Stereotype stereotype terhadap pekerja migrant!
Media massa kita sering sekali menampilkan kisah kisah sukses dari pekerja migrant ayng bekrja di laur negeri. Mereka digambarkan bisa kirim uang rutin ke keluarga mereka, sehingga kelaurga yang ditinggal bisa beli motor, handphone bahkan sawah. Stereotype ini juga tampak di film Minggu pagi di Victoria Park ini. Di sini memang digamabrkan sebagian besar para pekerja migrant di hongkong ini bisa memenuhi semua permintaan kelaurga mereka di indoensia. Tapi ketika mereka tidak bisa, mereka karena tidak mau dicap gagal di negeri orang, mereka pun berhutnag ke tempat kredit yang bisa mereka akses . Dari sini pun masalah kemudain berentet panjang.
Stereotype lainnya yaitu yang berasal dari orang asing di Hongkong itu sendiri yang menganggap bahwa perempuan perempaun pekerja migrant indoenesia itu mudah dibujuk rayu dan kemudian ditipu. Di film ini terlihat bagaimana seorang keturunan arab di sana yang memcari para perempaun pekerja migrant Indonesia di hongkong dan kemudian diporotin untuk ditraktir makan, shopping segala keperluan dia sepetri sepatu handphone dll. Dan ia tidak hanya memacari satu perempaun peekrja migrant tapi bebrapa sekaligus. Dan, ia juga tidka segan memaki, memukul pacarnya jika tidak mengikuti maunya dan atau jika lebih menggunakan uang mereka untuk dikirim ke kampong dari pada untuk memenuhi nafsu foya foyanya. Terhadap roang orang seprti ini, ada pekerja migrant yang kemudian berani memutuskan orang ini namun banyak yang tidak, yang tetap terlena dengan buaian dan rayuan gombal si lelaki penipu ini.

Cinta yang tak pernah kulo nuwun!
Percintan memang sering dijadikan bumbu pada fil film. Nasional maupun luar. Negitupun di Minggu Pagi di Victoria Park. Ada beberapa kisah cinta yang dihadirkan.
(1) kisah seorang pekrja konjen yang sering melakukan pelatihan untuk para pekerja migrant dengan salah satu pekerja migrant. Walau belum membuahakn hasil, namun sudah sanagat kentara bahwa si “bapak” sangat ingin menjadi kekasih si “anak hilang:.

(2) orang Indonesia ke Hongkong tak sedikit juga dengan tujuan untuk dagang atau membeli barang yang kemudian di jula di Indonesia. Dan mereka biasanya juga berdomisili di hongkong dan menungkinkan mereka untuk berinteraksi lebih dengan orang orang Indonesia di hongkong, termasuk dengan para peekrja migrant. Vinceent, serang pengusaha keturunan tinghoa juga melakuakn hal ini. dia sangat suka malah ke tempat tongkrongan parapekerja migrant dan bergaul dengan mereka. Dan tak diaayl bahwa percik percitaan kemudian timbul dan disajikan dalam film ini, dimana Vincent kemudian jatuh cinta dengan Mayang. Dan bumbu bumbu momen romantic juga beberapa kali menghiasai layar film ini.

(3) pekerja migrant kita tetnunya tidak selamaany hanya berhubnugan dnegan sesame orang Indonesia saja di hongking. Terkadang memreka berbaur juga dnegan warga asli hongkong atau pun warga Negara asing yang sama sedang berada di hongkong. Misalnay dengan keturunan Arab. Dan dalam film ini digambarkan seorang pekerja migrant, temannya Mayang yang berpacaran dengna seorang wna keturunan arab. Awalnya diperlihatkan bahwa mereka sangat romantic, si pacara sangat penyayang dan sebagainya. Namun kemudian diperlihahatkan bahwa si pacara kemudian hanya mua morotin si pekerja migrant untuk menraktri makan, membelikan sepatu dll. dan jika tidak dituruin, karena misalnya si pekerja migrant ingin memakai uangnya untuk dikirim ke kampong daripada membayari semua kebutuhan pacar arabnya, maka si pacara marah menmaki maki hinggak memukul. Hal ini memperlihatkan bahwa di kepala si Arab sudah ada stereotype atau stigma bahwa jika pekerja migrant mudah dirayu, dengan sedikit kata kata dan perlakuakn manis maka akan melakukan apa saja termasuk membayari semua kebutuhannya. Dan hal lain yang kita liaht di sini adlah bahwa perlakuakn kasar tidak hanya mungkin diterima oleh pekerja migrant dari majiaknnya tetapi juga dari orang orang terdekatnya dalam hal ini kekasihnya.
(4)fenomena percintaan yang menarik yang juga muncul di film ini adalah kisah percintaan sesame jenis, anatara sesame pekerja migrant. Ada beberapa kisah percintaan seperti ini d dalam film ini. lengkap dnegan stigma bahwa percintaan sejenis yang lebih possesif dan cemburuan juga muncul di sini. dan bagaimana ketika putus cinta pun cenderung mengambil langkah langkah sangat berani misalnya bunuh diri yang digambarkan dalam film ini. fenomena ini mungkin bisa dikatikan dengna pepatah jawa “cinta itu ada karena terbiasa”.

“Super kredit”, super mencekik
Super kredit adalah tempat para pekrja migrant bias mengkredit barang. Tempat inidimiliki oleh orang hongkong. Tapi di sini bunganya sanagat tinggi. Dan jika telat bayarnya dikenakan denda full, Walau pun Cuma telat 3 hari.

Super kredit ini terlihat sangat bersungguh sungguh ingin meraup untung sebanyak mungkin. Ini telrihat dari beragam poster penawaran yang menggiurkan para pekerja migrant. Dan juga dari segi manajemnnya, semua pegawi di sana bisa berbhasa Indonesia sehingga meudahkan mereka untuk merayu para pekerja migrant. Indoenesia.

Sialnya, Jaminan di sini adalah paspor. Sehingga jika tidak bias melunasi hutang maka rentetan maslaah akan dengan sangat cepat menghamipiri. Urutannya begini, jika telat membayr angsuran hutang maka bunga dilipatgandakan. Dan jika terus terusan telat atau jika smapai tidak bisa melunasi hutang karena beserta bunga sudah sangat tinggi jumlahnya, maka paspor ditahan. Dan jika paspor ditahan maka para pekerja migrant ini jikapun sudah selesai kontrak kerjanya tidak akan bisa pulang ke Indonesia sebelum melunasi hutang hutangnya. Di lain pihak ia sudah tidak bisa lagi bekrja di bawah pengaturan pjtki tempat awal dia bernagkat, karena sudah habis kontraknya, sehingga jadinya dia kerja serabutan, mula idari menemani orang jompo hingga jadi pedila. Dan ketika jadi pedila juga belum tentu walau uang sudah bnayak dan ada kemungkinan bisa melunasi hutang maka maslaah akan selesai, mereka juga kaan terlilit maslaah dengan germo, bisa jadi masalah hutang lagi.

Sebelum itu, pekerja migrant yang punya hutang ke super kredit biasanya malu mengaku ke teman teman sesame pekerja migrant bahwa mereka berhutang apalagi yang sudah sangat banyak. Dan cenderung pilihan merkea adalah kabur dan tidak mau bertemu teman teman sesame peekrja migrant. Hal ini tentunya menimbulkan kerugian bai pekerja migrant yang memiliki hutang tadi sendiri. Karena ia jadi tidka bisa mengakses infornasi eg tentang keluarga kampong atau teman yang lainnya, mereka jadi tidak bisa sharing maslaah nya ini yang kemungkinannya adalah bisa dibantu oleh teman teman merkea yang banyak tadi. Sehingga semakin larut saja maslah yang mereka hadapi. Malu terus terang, malu saat terkena maslah memang jamak terjadi dil ingkungan masyarakt kita. hal ini karena takut dianggap tidak keren, cemen, tidak kaya ,tidak sukses dll dll

Kembali ke persoalan super kredit, terlihat di sini bahwa super kredit ini didirikan dengna asumsi bahwa semua pekerja migrant Indonesia pasti suka barang barang bagus (handphone dll) karena mereka memang dari latar belakang ekonomi yang rendah di Indonesia, dan di sisi lain stiereotype bahwa jadi peekrja migrant itu harus kaya, membuat mereka mengukur kaya itu dnegna barang barang mewah tadi dan ingin menunjukkan ke orang orang di kampong merkea semua barang barang mewah tadi dan menurut merkea biar nggak malu “ sudah jauh jauh kerja ke laur negeri, masalk tetep kere juga”. Dapat kita simpulka nuraian ini bahwa stereotype sukses itu selain didengungdengungkan oleh orang orang di indoensia ditambah lagi di pompa pompa oleh masyarakat hongkong sendiri lewat kasus super kredit ini, menimbulkan masalah yang sangat besar terhadap pekerja migrant kita. Sebegitu bahanyalah penstereotype-an masyarakat!!

Hal lain yang bisa kita kaji dari persoalan super kredit ini adalah, bahwa paspor para pekerja migrant itu tidak disimpan oleh majikannya tapi oleh pekerja migrant sendiri sehingga merkea bisa mengagunkannnya untuk membeli barang barang mewah secara kredit di super kredit. Hal ini melayangkan pikiran kita ke nasib teman teman pekejra migrant lain di arab atau di Malaysia misalnya yang menahan paspor para pekerja migrant kita dengna alasan biar tidak kabur dan sebagainya.

Namun apakah ini artinya kondisi pekreja migrant di hongkong lebih baik dibandingkan dnegna yang di arab atau mayasia? Ternyata tidak. Meskipun para pekreja migrant kita yang berada di hongkong mendapt perlakukan baik dari majikan dan seluruh anggota keluarganya, namun mereka diikat untuk kemudian tidak bisa pergi meninggalkan Hongkong, oleh superkdredit.

Lalu mengadu kemana?

D ifilm ini juga digambarkan bahwa ada bagian konjen Republik Indonesia di Hongkong yang sering mengadakan event bersama para pekerja migrant. Namun yang digambarkan di sini hanyalah kegiatan yang bersifat hiburan, sperti panggung hiburan di taman Victoria park. Dan kalau pun ada pelatihan yang tergambar adalah keternagan tentnag gaji yang akan didapat (5-6 juta rupiah). Tak telrihat bagaimana konjen sebagai suatu instansi pemerintah RI di laur negeri memiliki system perlindungan bagi para pekerja migrant kita. misalnya tak terliaht adanya pemaparan tentang perlindungan hukum apa yang dimiliki para pekerja migrant itu dan bagaimana mengaksesnya.

Ada satu hal positif dimana yang terlihat hanyalah seorang pegawai konjen yang melakukan sharing maslaah dengna para pekerja migrant di warung bu de, yang dari kacamata positif bisa dikatakan slaah satu cara konjen mendekatkan diri ke pekerja migrant dan melakukannya di tempat tempat yang disukai para pekerja migrant (dalam hal ini warung bu de). Namun apa benar si oknum konjen ini melakukannya karena memang adalah bagian dari lingkung tanggung jawabnya di konjen atau kaha hanay karena tendensi pribadi, karena yang terkena maslaah di sini adalah pekerja migrant yang disukainya atau karena ia melakukannya karena rasa bersalahnya yang tidak bisa membantu si pekrja migrant ini ketika dulu di wal sebelum terjebak maslaah datang ke padannya untuk meminta bantuan? Sangat baur. Dan kecondongannya adalah ke yang terakhir.

Jalan jalan tikus menuju selamat

Sebenarnya, dengan masih mendasarkan data dari film Minggu pag idi Victoria park ini, bahwa sebenarnya ada celah celah, ada jalan jalan tikus yang sangat bisa dan mungkin diakses oleh para pekerja migrant kita dan yang bisa menjauhkan mereka dari masalah (apapun dan dari siapapun)

Konjen RI di Hongkong seharusnya bisa lebih dioptimalkan dalam memberi perlindungan kepada semua pekerja migrant Indonesia di sana. Selain menciptakan system perlindungan hukum yang tepat dan berguna, system jemput bola- dalam hal ini memanfaatkan ruang ruang rame pekerja migrant eg warung bu de atau pun Victoria park, bisa jadi satu alternative. Namun harus dipersiapkan betul, apa yang mau dituju misalnay mau bicara tentnag system perlindungan, tentang budaya budaya hongkong yang kemungkinan bisa menibulkan culture shock pada para pekerja migrant kita dll. kemudian siapa yang melakukannya (dengan tendensi membantu semua pekerja migrant bukan hanya satu), dan bagaimana melakukannya (diskusi, seminar, dll). hal hal ini harus dikaji dan dipikirkan betul masak masak agar tujuan mereka ditempatkan di sana dengan gaji dari keringat para pekerja migrant juga terwujud, ytaitu untuk melindungi warga Negara di temapt merkea bertugas, termasuk pekerja migrant yang ada disana.

Warung bude dan Victoria park selain bisa dimanfaatkan oelh konjen untuk ketemu masyarakat Indonesia di san juga bisa dimanfaatkan oleh sesame pekerja migrant sendiri. Nyata diyakini bahwa melalui sharing pengalaman, sharing masalah maka sebagian maslaah kita terhapus dan terselesaikan melalui pengalaman orang lain. Nyata juga diamini jika bertemu dengan orang se Negara di luar negeri, walau tidak bicara hanya saling tersenyum dan anggukkan kepala membuat kepala dan dada terasa penuh bahagia, penuh suka dan mengikis nestapa walau sejenak. Dan jika proses berbagi maslah dan berbagai pengalaman ini bisa dikemas sedemikian rupa maka tidka mungkin akan menghilangkan semua maslaah pekrerja migrant dan kalau pun tetap ada mereka kuat, bersama sama menuntut apa yang menjadi hak mereka.

Mengecewakan!: Sekedar simpulan
Bagi aktivis perempaun yang selama ini menggeluti isu isu perempuan pekerja migrant ini, film ini tentu tidak akan membuat mereka puas. Karena migrant, pekerja migrant berikut segala fenomena, stereotype dan persoalannya hanya menjadi bingkai “memperindah” film ini, karena persolaan pekerja migrant sendiri sudah dramatis ditambah lagi dengan kisah kakak beradik sekar dan mayang yang juga dramatis, sehigga makin indahlah film ini.

Namun demikian, walau hanya menjadi bingkai pada film ini, fenomena dan rentetan maalah pekerja migrant terutama di hongkong yang disajikan di film ini, cukup bisa membuka mata kita tentang “hidup seprti apasih sebenarnya yang dijalani oelh pekrea migrant kita disana? Bahwa ternyata tidak hanya ada suka tapi ada banyak sekali masalah ayng mereka hadapi yang bisa berujunbg ke kehancuran hidup bahkan kematian.
Namun kalau kita boleh melihat dengan mata kritis kita bahwa Secara keseluruhan film ini yang memang hanya menjadikan pekerja migrant dan hidupnya sebagai bingkai kisah dua kakak beradik, mayang dan sekar, dan dengan penampilan fenomena fenomena atau gaya dan pongah hidup pekerja migrant indoensai di hingkong ini seolah mengajak orang untuk berbondong bonding jadi pekerja migrant ke sana. Tergambar bahwa situasi di sana aman, majikan tidak galak seperti di Malaysia atau arab, bisa bebas ketemu teman teman sesame pekerja migrant, ada warung indoensai yang mwenyajikan makanan khas Indonesia, ada gaji yang besar. (5-6 juta sebulan untuk ukuran pekerja rumah tangga itu artinya sama dengan 10-12 kali lipat gaji pekerja rumah tnagga d iindonesia).

Meskipun demikian, film ini yang bisa dibilang komersil, punya nilai jual, bisalah untuk memperkenalkan isu pekerja migrant kita yang ada di luar negeri, khususnya di Hongkong. Walau di akhir film ini di katakana bahwa ada sekian puluh ribu perempuan peekrja mgiran indoensia di sekian puluh Negara dan mengalalmi sekian macam maslaah, tap itidak ada hubungannya sama sekali dengna isi film, cenderuung dipaksakan, namun seperti yang diatas, bisalah membuat kita berpikir dna melayangkan ingatan keapda sobat sebangsa kita yang berada di luar negeri sebagai para pekerja migrant. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar