Kamis, 25 November 2010

Nol Perlindungan bagi Pekerja Migran Indonesia di Luar Negeri: Terkesiap oleh kasus Sumiati

Kasus penganiayaan Sumiati asal Dompu di Arab Saudi yang beberapa hari belakangan ini gencar diberitakan hanyalah satu dari ribuan kasus lain. Kalau kita mencermati lebih intens media elektronik atau pun cetak, setiap harinya peristiwa seperti Sumiati ini akan kita jumpai. Namun, entah karena kita semua sudah immune terhadap kasus kasus ini, sehingga tidak ada langkah yang kita ambill. Pun oleh pemerintah. Terhadap kasus Sumiati, ya pemerintah “sepertinya” cepat tangggap dan langsung membuat tim penyidik yang katanya akan segera diberangkatkan ke Jeddah untuk mengusut kasus ini.
Langkah agresif pemerintah ini menimbulkan beberapa pertanyaan di benak penulis. Penyelesaian kasus Sumiati dengan sumber daya yang luar biasa ini, apakah akan menyelesaikan kasus kasus “Sumiati Sumiati” yang lain? Apakah jika selesai satu kasus ini juga akan menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi oleh teman teman pekerja migrant kita? Apakah skema perlindungan pekerja migrant kita yang tertuang dalam UU No 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindugan Pekerja Migrant tidak cukup sakti? Atau apakah mungkin pemerintah lebih tertarik untuk mengurusi remitansi para pekerja migrant kita yang berhubungan dengan devisa negara dibandingan dengan mengurusi perlindungan para pekerja migrant kita di luar negeri?
Untuk yang terakhir, soal remitansi, penulis akan sedikit mengelaborasinya dan menghubungkannya dengan perlindungan pemerintah terhadap pekerja migrant kita. Jika dipetakan siapa siapa saja actor yang terlibat dalam persoalan pekerja migrant ini, maka kita akan mendapati banyak sekali pihak. Mulai dari pemerintah itu sendiri, swasta ( PJTKI/PJTKIS), Bank Bank Pemerintah atau pun Swasta dan juga UN Agencies, kemudian actor pentingnyanya juga adalah pekerja migrant dan keluarganya itu sendiri. (Riwanto, Mobility and Human Development in Indonesia, UNDP, 2009) Kenapa begitu banyak actor yang terlibat? Salah satu asumsi yang berkembang adalah karena para pekerja migrant ini memang adalah sumber devisa bagi Negara, yang mengalirkan uangnya lewat remitansi tersebut.
Pertanyaan berikutnya, memangnya berapa sih jumlah remitan yang dialirkan oleh para pekerja migrant ini? pada semester pertama di tahun 2006, Menurut laporan dari Kemenakertrans ada 15 triliun rupiah dan 186 Triliun pada 2009 (Susilo, 2009). Wow jumlah yang fantastis. Namun bagaimana perlindungan terhadap mereka? Mereka masih saja terlilit berbagai rentetan masalah. Masalah yang mereka dapatkan sejeak sebelum penempatan (masa perekrutan, masa pembekalan, masa administrative sebelum keberangkatan), saat penempatan ( di tempat kerja dengan majikan, dengan social baru mereka di luar negeri, dengan system hukum dll) dan juga paska penempatan (kesulitan klaim asuransi, tabungan dll). Yang paling juga terlihat adalah mereka kurang sekali mendapat perlindungan hukum terutama di Negara penempatan. Mereka tidak tahu payung hukum yang bisa mereka naungi apalagi mengaksesnya.
Jika berbicara tentang permasalahan pekerja migrant akan menghabiskan satu buku zaman; yang tidak akan selesai selesai ditulis. Semoga kasus Sumiati, bisa menjadi momen untuk kita semua memekikkan pentingnya perlindungan 100% untuk para pekerja migrant kita.

Rabu, 17 November 2010

Ransel

Pada sebuah pelatihan untuk para Pedila (Perempuan yang dilacurkan) yang pernah aku ikuti, tepatnya pada sesi perkenalan, semua peserta diminta fasilitator untuk menyimbolkan dirinya pada sebuah barang. Ada satu yang menarik perhatianku. Seorang peserta menyimbolkan dirinya bagai sebuah tas. Kenapa? Karena menurutnya tas, itu bisa dibawa kemana-mana (begitu juga dia). Namun tas itu juga adalah sebuah aksesoris yang difungsikan untuk mempercantik penampilan dan membuat si pemakainya tambah PD, katanya. Dengan kata lain ia mau bilang bahwa, walau pun ia bisa dibawa kemana-mana, tapi ia tidak kosong makna. Ia mempercantik, membuat orang yang membawanya lebih menarik dan lebih PD.

Dari cerita seorang teman Pedila di atas, aku bisa tarik dua hal dari tas. Tentang sifat tas yang bisa (biasanya memang) dibawa kemana-mana dan satu lagi yaitu tentang fungsi tas, untuk mempercantik / membuat lebih menarik orang yang memakainya. Itu menurutnya. Menurutku?

Tas-tasku?

Tas. Bicara tentang tas, aku sudah mengenal barang ini sejak masih duduk di taman kanak-kanak seingatku. Saat itu apa yang ada di tasku, yang adalah ransel? Tentunya bawaan wajib anak-anak TK. Bekal makanan yang disediakan ibu, peralatan tulis yang hanya berupa seperangkat krayon dan selembar sapu tangan, buat ngelap ingus.

Namun, selain bawaan wajib itu, sering aku memasukkan barang-barang lain ke tasku. Misalnya, bunga indah ayng aku temui di jalan sewaktu berangkat sekolah, beberapa lembar kertas warna warni yang aku minta dari kakakku, jepitan rambut, atau terkadang batu-batu kecil yang ntah karena aku suka bentuknya atau karena ingin menggunakannya nanti untuk bermain di sekolah juga banyak terdapat di tasku. Alhasil semua benda “tak wajib” tersebut membuat tas ranselku bertambah berat. Sering karena berat beban tas itu, aku minta tolong kakak, ibu atau paman yang mengantar jemputku ke sekolah untuk membawakannya untukku. Maaf y semua?! :P

Perihal tas pertamaku itu, aku tidak ingat menggantinya saat aku TK tersebut. Jadi aku hanya punya satu tas waktu TK, yang alhasil jadi sangat buluk ketika aku masuk ke SD.

Saat sekolah di tingkat yang lebih atas, SD sampai SMA, yang aku ingat adalah aku selalu memilih tas ransel. Dan kebiasaan waktu TK ternyata terus terbawa. Aku tidak hanya mengisi tasku dengan barang-barang wajib anak sekolah, tapi selalu saja ada barang-barang “penyusup” yang aku bawa di tasku. Ntah itu buku cerita, koleksi kertas warna warni bergambar lucu dan berbau wangi, atau pun buku pelajaran yang bukan harinya, ngumpet di tas ranselku. Alhasil tasku besar dan berat banget. Aku tak tahu apakah karena faktor itu, aku jadinya agak bungkuk dan tidak tinggi-tinggi (hahaha..ini adalah pembelaan atas kondisi fisikku yang mungil :p).

Terhadap kondisi tasku yang seperti itu, di tingkat keluarga, aku sering diwanti-wanti untuk mengurangi beban tasku. Bawa yang perlu aja, kata mereka. Tapi karena menurutku semuanya perlu, jadi tetap saja tasku mengembung dan mereka hanya bisa geleng kepala dan berlalu.
Teman-temanku juga kerap mempertanyakannya. Tapi yaa jawabanku sama. Semua barang di dalam tasku, yang wajib dan tidak wajib ada di tas seorang siswa, menurutku penting dan harus ada di tasku dan harus aku bawa.

Masa kuliah. Tetap pilihanku adalah ransel. Namun yang berbeda sekarang adalah jenis penghuni “ilegal” tasku. Selain diktat-diktat kuliah dan alat-alat tulisnya yang jadi penghuni ranselku, di sana juga akan ditemui buku organizer, yang tidak hanya aku gunakan untuk catat jadwal kuliah, tapi juga menjadi tempat koleksi kata-kata mutiara yang aku kumpulkan ntah dari majalah, buku atau internet bahkan lirik lagu yang aku dengar. Alhasil organizerku jadi tebal dan berat tentunya.

Selain itu, juga akan teronggok sebuah jaket atau sweater, buku-buku novel atau majalah (yang biasanya jumlahnya lebih dari dua buah) dan cemilan. Piuhh..dan memang perjuangan yang lumayan memikul ransel itu dari kosanku ke kampus, dari kampus ke mall, dari mall ke perpustakaan, atau dari kosan ke tempat yang belum ku kenal. Tak pernah ada niat untuk menguranginya. Alhasil setiap orang yang berpapasan denganku di jalan, sering nyeletuk “ Mau mudik neng?.” Biasanya tidak pernah aku tanggapin.

Sekarang? Saat sudah kerja dan tidak kuliah lagi, aku tetap menjatuhkan pilihan ke ransel. Karena memang tuntutan pekerjaan. Aku harus terus mobile, dari satu tempat ke tempat lainnya, dan membaw banyak cadangan materi kerjaan, laptop, cadangan baju terkadang dan makanan. Tentunya pilihannya kembali jatuh ke tas berbentuk ransel.

Sikapku terhadap tasku?
Dari TK sampai kuliah, yang aku ingat adalah aku setia dengan tas ranselku. Jarang yang aku punya dua ata tiga ransel dalam satu waktu. Pernah, saking sayangnya dengan salah satu ranselku waktu kuliah, yang aku lakukan bukan membeli yang baru, tapi malah memberi peniti. Baru ketika bolongnya sudah sangat lebar, baru beli yang baru.

Aku juga tidak suka kalau ada orang yang seenaknya membuka tasku apalagi mengacak-ngacak isinya. Walau pun itu orang yang sangat dekat denganku. Tas bagiku adalah salah satu barang privat, seperti hp misalnya, yang tentunya hanya aku yang berhak “mengoperasikannya”. Hanya aku yang berhak tahu apa isinya, bagaaimana posisi barang-barang di dalamnya; rapi teratur atau kacau berantakankah, Cuma aku yang berhak tahu. Cuma aku juga yang punya hak untuk membukanya dan mengetahui “harta karun” di dalamnya. Sampai sekarang masih seperti ini. Aku punya satu tas ransel, yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk muat segala peralatan dan cukup kokoh. Itu andalanku sekarang.

Fungsi tas menurutku?
Jika di awal, aku memperlihatkan salah satu fungsi tas bagi temenku, yaitu untuk aksesoris. Tapi bagiku tidak begitu fungsi tas.

Tas, aku gunakan untuk membawa semua peralatan yang sekiranya aku butuhkan selama aku beraktivitas. Aku tidak peduli apakah itu akn membuat penampilan jadi makin menarik atau apa. karena bukan itu toch tujuanku.

Sering tasku yang sudah kumal dan bahkan robek, bukanlah sesuatu yang bisa menambah menarik penampilan menurutku. tapi itu tidak masalah, karena aku juga bukanlah orang yang begitu peduli dengan pendapat orang lain. Selama aku tidak mengganggu mereka, apa masalahnya?


Kenapa tidak tas jenis lain?
Dari tadi, kalau disimak, jika aku menulis tas maka itu yang dimaksud adalah ransel. Ya. Hampir semua tas yang pernah aku miliki dari TK mpe sekarang, semuanya berjenis ransel. Walau pun ada yang bukan tapi jarang sekali dipakai dan tidak dipakai pada saat “prime time”.

Ransel, yang teknis pemakaiannya adalah seperti menggendong seseorang, membuatku nyaman, dan sreg aja begitu “menggendong”nya. Aku berasa, jika ia ada di tempatnya (di punggung), dengan kedua “lenggan”nya merangkul lenganku, itu akan aman. Nyaman. Dan walaupun terkadang aku “menggendongnya” di depan tubuhku, rasa aman dan nyaman memakainya tetap ada.

Aku bukannya tidak suka dengan jenis tas lain. Aku suka, tapi aku ngerasa kurang pas aja untukku. Misalnya tas selempang. Ketika memakai tas jenis ini, aku merasa tetap kurang nyaman. Karena hanya satu bagian tas (talinya) yang nempel di pundakku dan bagian lainnya (badan tas) sering ada di pinggul samping atau di depan tubuhku. Menurutku itu tidak nyaman dan merasa nggak “kokoh” aja posisi tasnya.

Kemudian tas “cewek” cangklok. Pernah aku coba pakai tas berukuran kecil ini. Aku bingung sendiri ketika memasukkan barang-barangku ke dalamnya. Alamak Cuma muat untuk satu hp dan dompet kecil yang tongpes. Bagaimana dengan barang-barangku yang bejibun? Jangankan untuk memasukkan barang-barang “ilegal”, barang ‘legal’ yang kudunya harus ada di tasku aja tidak muat. Wah emang bukan pilihan niy..


Ransel itu apasih? Searching internet

Ada hubungan pilihan jenis tas dengan kepribadianku kah?
Masa depan tas di tanganku?

KEHILANGAN

Dua hari yang lalu, di saat kondisi badan dan mental yang drop kecapekan, sesaat akan membayar taksi, aku mendadak panik, karena tidak bisa menemukan dompet. Alhasil mengubek ngubek tas mpe kucel di taksi yang argonya masih jalan pun terjadi. Dan hasilnya nol. Alhasil, aku ga ikut urunan bayar taaksi patungan 3 orang tersebut.

Sesampainya di rumah, aku kembali mengubek-ngubek tas, dan tidak berhasil juga menemukan dompet itu. Akhirnya kondisi tubuh yang sudah drop banget, membuatku tidak bisa berpikir dan hanya menggumam, ya mudah-mudahan tertinggal di Tuprok (tempat terakhir aku sadar keberadaan dompetku) dan kalau pun tidak ada_terpikir ribet memang mengurus kartu-kartu dan bon-bon,hehehe.., dijabanin aja.
Akhirnya badan hanya ambruk tertidur capek.

Pada pagi hari, mental dan fisik sudah dipompa paksa untuk beraktivitas lagi. Dan ketika akan mengambil tas, ternyata posisinya kebalik dan dompetku tepat jatuh. Thanks God, ternyata dompet itu masih jatahku.

Satu hari yang lalu a.k.a taadi malam. Hp bututku, tidak bisa nyala karena lowbat. Hape itu tetap ditenteng kemana-kemana da masih dicoba-coba untuk dinyalakan. Pada satu saat kesadaran, aku merogoh kantong mencari si butut dan tidak ditemukan. Keriweuhan kembali hadir. Tas diubek-ubek dan warung jagung bakar_tempat terakhir yang aku rasa mungkin ketinggalan pun dijabanin. Tapi nihil.

Ketika balik, ke tempat dimana aku sadar kehilangan itu terjadi, aku berbagi susah dengan orang-orang yang aku temui. Mereka bantuin nyari. Dan ada yang lihat bahwa ada pemulung yang ambil sesuatu dari tanah becek dan dimasukkan ke peti rahasianya. Akhirnya, si pemulung dijabanin, dan yup, bener ternyata hp itu memang terjatuh ke tanah yang becek, sehingga tidak menimbulkan bunyi, dan insting “pengumpul” si pemulung langsung aja memungutnya. Akhirnya hp butut itu, beralih lagi ke tanganku, dan seorang temen, meminta aku untuk kasih “sekedar tanda terima kasih” ke si pemulung. Walau masih belum nangkap untuk apa, aku kasih aja. Yang penting hpku selamat dan kembali.

Berhubung baru saja jatuh ke lumpur, hp itu harus melalui proses pembersihan yang cukup lama dan intens. Dan ketika sudah cukup bersih, dicoba nyalain dan berhasil..

Untuk hal yang kedua, aku hanya bisa tertawa karena hp butut ini sudah sangat sering hilang dan selalu berhasil ditemukan. Mungkin karena saking bututnya jadi orang-orang jadi males juga ngurusinnya.jadi walau ditemukan ya dibiarin aja. Kalau ditemukan pemulung memang bedasiy kasusnya,hehehe...

Sedikit tentang kehilangan

Hilang, kalau boleh mengartikannya sendiri, itu kan situasi di saat sesuatu milik kita berpindah tempat (ke orang lain, atau memang ke tempat lain). Banyak ungkapan yang menyelubungi perihal hilang atau kehilangan ini.
“ kalau lu kehilangan sesuatu, itu artinya lu kurang amal. Jadinya sesuatu yang harusnya lu keluarin untuk amal, diambil paksa dari lu (walau pun terkadang pembandingnya ga seimbang)’.

“ kalau lu kehilangan sesuatu, itu artinya memang bukan rezeki lu aja barang yan g hilang itu”

“ kalau lu kehilangan sesuatu, itu adalah peringatan agar lu lebih berhati-hati”.

Atau,

“ kalau lu kehilangan sesuatu, ya itu karena lu ga hati-hati aja jaga barang-barang lu..”

Dan ketika misalnya barang yang lu kira hilang ternyata tidak hilang, ada lagi ungkapannya.

“ lu siy pikun, lupa narok barangnya dimana”.

“ syukurlah”

“itu tandanya masih milik. Makanya balik lagi”.

Untuk yang terakhir ini, seperti yang membenarkan bahwa kepemilikan, kepunyaan akan sesuatu itu ada jangka watunya. Ya contohnya umur.
“ kalau lu masih punya umur, ya lu tetap hidup. Kalau udah habis masanya, ya lu mati’.

Lalu ketika sudah kehilangan atau ketika sudah menemukan kembali yang dikira hilang itu lalu bagaimana?

“pasrah”
‘di kemudian hari lebih berhati-hati’
‘beli lagi’
Bla bla bla bla....

Tapi yang penting sebenarnya, jangan panik, jadikan sebagai momen reflektif, atas kehilangan atau hidup yang belum hilang.

dr kamu

3/13/09 at 2:53 AM

aku kirimkan sebuah pesan

pesan yang tak bisa di lihat

tapi bisa kamu rasa setiap senja datang menyapa

lewat angin aku kirimkanpeasan itu

kamu baca dengan hati..

setiap tulisan yang tertulis adalah bagian dari rasa yang aku punya

setiap titik dan koma adalah cinta

simpan pesanku di hatimu..

simpan rasa sayangku di hatimu

AKU, SEORANG & SEORANG ITU...

Aku ga peduli orang mau bilang apa.. yang aku rasakan sekarang adalah begini. Rasa yang kuat dan semakin hari semakin kuat. Menguat dari satu aku. Menguat ke seorang.

Pastinya dia adalah seorang yang luar biasa dimataku. Karena kalau dia Cuma biasa saja di mata ditambah di pikiran dan di hatiku, tentu aku tidak akan begitu tertarik dengannya. Cuma dua hari berlangsung yang pertama itu. Hanya melihat dari jauh. Tidak ada percakapan pun sekedar teguran. Pertemuan berikutnya juga dalam rangkaian resmi, sehingga tidak ada apa pun yang akan terjadi. Tetap seperti yang pertama kali. Apakah karena dua kali pertemuan itu berlangsung di tempat yang sama, ditambah lagi dengan posisi duduk kami yang juga sama dengan pertemuan yang terdahulu.

Waktu, tak usah diperdebatkan pasti berlalu. Orang bilang kerasa lebih cepat waktu akhir-akhir ini atau malah orang loyo dan stuck di kerja yang membosankan bilang bahwa waktu berjalan sangat lambat. Apa pun itu, orang bilang, orang rasa. Sedang waktu sedemikian angkuh, tidak bergeming. Tidak menuruti permintaan orang-orang yang menginginkan ia lambat atau cepat, atau supercepat.

Dalam kurun waktu yang cukup panjang, 4 atau 5 bulan, aku kembali bertemu dengan orang itu. Di tempat yang sama, tapi dalam kegiataan yang tidak seformal pertemuan pertama kami. Teguran mulai terasa. Namun percakapan masih tidak. Diakhir pertemuan dia menyebut namaku, lirih dan ketika aku bertanya “ ya..?”, dia mengalihkan dan berlalu. Sedikit jarak waktunya dengan itu, kembali kita bertemu. Suasana sudah tidak formal. Sudah tidak kaku, sudah banyak percakaapn. Teguran juga bukanlah yang luar biasa sekarang..

Rasa semakin datang, semakin kuat. Ketika makin kenal ia makin berat timbangan rasa ini arahnya ke dia. Ada banyak hal kita lakukan bersama. Ada banyak hal kita bagi, dan rasa semakin tebal buku harian mencatat namanya, atau pun mendokumentasikan kenangan besamanya. Rasa semakin kuat, sampai timbul keinginan untuk menyatukan rasa. Rasanya dan rasaku tentunya. Ada di mimpi malam, sering tanpa sadar, pun hadir di mimpi siang tatkalaku dalam sadar.

Rasapun berpelangi. Ingin kecapi semua warnanya. Namun rasa warna satu terasa sangat tidak pernah membosankan. Ingin berlama-lama disana, karena bersama dia. Karena ia ikut, langsung, tidak langsung, singgah bersama dia-dia yang lain atau pun ia hanya dari ketak ketik komputer. Namun rasa, ada bau dia. Bagiku. Dan mungkin hanya aku di teritori ini.

Rasaku dan rasanya tetap disana. Ttep dalam mimpi. Tak nyata. Tak ada aplikasinya.
Rasa itu kemudian mulai kabur, mulai menghilang. Ia bersama rasanya yang legal. Ia memadu rasa dengan tawa-tawa yang hadist. Tidak apa-apa. Rasa itu hilang, tapi kemudian tumbuh rasa dalam bentuk lain yang pun tetep membuat kita tetep dekat, tetap mencipta rasa bersama. Walau bukan untuk berdua, tapi untuk ratusan orang yang kita anggap harus diangkat harga mereka. Dan kita tetap mencipta rasa, menkarya rasa untuk itu, walau semakin dirasa jauuhh..




Seorang itu begitu hidup. Dari semuanya, seorang itu begitu hidup.

Umpatan memang keluar dari melihat angkuhnya di awal januari tahun lalu itu. Ingin erucap, tapi rasa pemalu di diriku mengurungnya. Tapi terobati dengan ketika ia adalah yang akan menjadi juru selamatku di hutan asing. Bukan hutan ramah dan sejukku. Tapi adalah hutan panas dan kata orang tidak ramah. Belum sampai aku ingin berucap terima kasih, ia sudah membuatku ingin berumpat.

Umpatan, dan cacian untuknya, akhirnya hanya mengendap di kepalaku. Dan menjadi dongkol di hatiku. Karena rasa yang ia tebar adalah bahagia. Rasa tawa. Rasa gembira. Tidak apa-apa ia mempermalukanku, tapi kutahu itu hanya untuk tumbuhkan rasa tawa di aku dan atau pun di semua orang tidak apa-apa saja.

dari rasa tawa, dan dari tindakan mempermalukanku itu, kita bdua pun mencipta rasa teman. Semua cerita dibagi, semua tawa juga dibagi. Dalam hal ini, waktu tidak begitu dipedulikan .mau cepat atau lambat, yang tercipta tetap adalah rasa tawa dan bahagia. Sehingga waktu seperti dilupakan.

Selalu tawa yang menjadi latarnya. Tetapi yang berlaku di depan adalah sedih, gundah umpatan dan tangis. Dan aku akan selalu kembali ke belakang , ke latar, ke tawa. Dan dia sealu ada di situ.
Kita disitu, berlama-lama. Untaian-untaian rasa berobah. Bertolak. Tapi ada yang smaa yaitu tawa.

Rasa untuk menyatu juga mulasi tercipta. Hanya ingin selalu mencipta rasa tawa, walau sebenarnya yang ku inginkan hanyalah dekat dia. Seribu dua alasan pun di perdengarkan. Dan ia selalu mau. Mencipta rasa berdua.

Sekarang, rasa itu memang sudah satu,. Sudah bullat. Sudah tak ada batas. Sudah sanagt menggunung. Gunung rasa itu pun sudah mengeluarkan magmanya, mengeluarkan larvanya dan mengaliri kami. Membuat rasa semakin lengket, membuat rasa tidak mau dan tidak diperbolehkan dan tidak mau dikeluarkan izinnya untuk pergi.

Rahasia. Rahasia sendiri, rahasia berdua atau pun rahasia umum. Prinsipnya, tidak boleh diketahui oleh orang lain. Tidak boleh ada yang ikut ambil peran dan membuat rahasia itu tida menjadi constanta lagi.

Rasa ku dan dia adalah rasa rahasia. Rasa rahasia berdua. Yang lain, awas kalau ikut campur, yang lain tidak boleh melongok dan sekedar melhat apa yang tengah terjadi..? walau dia yang berekor banyak yang juga tempatmu pernah menyatu rasa, pernah mencipta karya rasa? Tidak bole!

Rasa ini rahasia. Rasa kita. Rasaku dan rasa seorang itu.