Benar akan sangat jarang kau dapati senyumanku
benar akan sangat jarang kau dengar tawaku
benar tidak akan ada lagi ciuman hangat pun panas kita
benar tidak akan ada lagi sentuhan berujung desahan kita
raga yang dulu kuizinkan kau untuk cium, sentuh dan rengkuhnya
tlah menolakmu
atau memilih untuk menolak ragamu
izin itu sudah dicabut ragaku
mungkin akan ada kaal kau dapatkan algi izin itu
atau izin itu akan berganti nama pemilik
atau tidak akan ada lagi izin itu
karena raga ini mengubur izin itu dalam, dalam dan teramat dalam
sampai sampai raga sendiri tak tahu lagi dimana
rag tak peduli dan tak berniat memburunya
Benar akan sangat jarang kau dapati senyumanku
benar akan sangat jarang kau dengar tawaku
benar tidak akan ada lagi ciuman hangat pun panas kita
benar tidak akan ada lagi sentuhan berujung desahan kita
Dan bahwa kau selalu di sini
di sini bersama ku
tidak hanya dekat di hatiku namun menyentuh kulitku
kau dalam tubuh lain
tubuh yang padanya mengalir darah, nafas dan erangan orgasmemu
tubuh yang padanya mengalir darah, nafas dan erangan orgasmeku
tubuh yang padanya mengalir darah, nafas dan erangan orgasme kita
dia bukanlah buah percintaan kita
dia bukanlah bukti cinta kita
dia adalah dia
yang hadir lewat percintaan, lewat lenguhan kita
dia yang ketika melihat matanya, ada dirimu dan diriku
namun itu bukan mata kita, itu mata dia
tawa ayng ketika kita mendengarnya, akan melambungkan pikir kita
pada ribuan jam yang lalu saat kita nikmati tawa kita bersama
di tawa itu sepertinya ada tawa kita
ya sepertinya, tidak pernah sesungguhnya
yang sesungguhnya adalah itu tawa dia
tawanya dalam arungi hidupnya
jangan hanya karena kita merasa bahwa ada bagian kita padanya lalu
kita minta bagian juga padanya
bagian untuk dihormati, untuk disayang,untuk dipeluk dan dicium
tidak
biarkan dia yang memutuskan, bagian mana yang akan dia berikan pada kita
atau coba berlapang dada kalau kemudian dia tidak memberikan apa apa darinya untuk kita
dia punya kuasa atas diri, tubuh dan keputusannya sendiri
Benar akan sangat jarang kau dapati senyumanku
benar akan sangat jarang kau dengar tawaku
benar tidak akan ada lagi ciuman hangat pun panas kita
benar tidak akan ada lagi sentuhan berujung desahan kita
27052010-jatibening
ranah dimaknai sebagai tempat asal bertumbuh dan menetap selamanya kata kata dari pikiran dari hati dan terkadang tidak dari dua duanya hanya dari jarijari dan sekonyong terbit disini
Senin, 31 Mei 2010
rindu
Kerinduan laut akan garam
semakin dia teguk, semakin dia dahaga
seribu tiga ratus dua puluh satu setengah orang bilang
' kerinduan obatnya bertemu
beri tahu garam agar menjauh sejenak dari laut
beri tahu laut untuk membasuh diri dengan gula atau asam
ntuk pisah cukup sekejap
kemudian melaku rindu, selamanya
–
rindu ini semain membuncah
semakin membuncah, saat coba dihapus
senakin membuncah, saat bayangnya mendekat
membuncah, membuncah, membuncah
hingga sanggup memecah kepala
memecah hati namun tak mengoyaknya
memecah diri walau berkeping namun tegap melangkah
menuju rindu, menuntaskan semua kebuncahannya
sampai benar benar buncah
karena rindu ini sungguh tak terbendung ingin membuncah
membuncah, membuncah oooohhh membuncah
kan rindu pada esok
–
mengingat seperempat hitam bola matamu
mampu tuntaskan rinduku padamu
–
il me manques toujours!
26052010-jtb
semakin dia teguk, semakin dia dahaga
seribu tiga ratus dua puluh satu setengah orang bilang
' kerinduan obatnya bertemu
beri tahu garam agar menjauh sejenak dari laut
beri tahu laut untuk membasuh diri dengan gula atau asam
ntuk pisah cukup sekejap
kemudian melaku rindu, selamanya
–
rindu ini semain membuncah
semakin membuncah, saat coba dihapus
senakin membuncah, saat bayangnya mendekat
membuncah, membuncah, membuncah
hingga sanggup memecah kepala
memecah hati namun tak mengoyaknya
memecah diri walau berkeping namun tegap melangkah
menuju rindu, menuntaskan semua kebuncahannya
sampai benar benar buncah
karena rindu ini sungguh tak terbendung ingin membuncah
membuncah, membuncah oooohhh membuncah
kan rindu pada esok
–
mengingat seperempat hitam bola matamu
mampu tuntaskan rinduku padamu
–
il me manques toujours!
26052010-jtb
Sabtu, 22 Mei 2010
Minggu, 09 Mei 2010
cari pacar lagi gih
"cari pacar lagi gih". seorang teman berucap kalimat itu saat aku menikamti segelas es campur lezat. es campur yang tengah digenggaman dan di mulut juga mendadak berasa gado gado.
yaa.. untuk cari pacar lagi, bukan tak pernah singgah di kepalaku, cuma aku selalu melupakannya.
aku akan mencari pacar lagi jika:
" aku sudah punya kerjaan tetap, penghasilan tetap dan mencukupi buatku dan rayez dan kami juga bisa nabung"
mnegapa???
"kalau sekarang, aku takut, kriteria pertama dari pacar yang aku cari adalah: kaya, bisa mencukupi semua kebutuhan ku dan rayez".
kenaap tidak??
"aku akan bersyukur jika nanti setelah aku kaay aku mendaptkan seseorang yang kaay juga. dan kami akan bersama mengelola kekayaan kami. tapi sekarang, aku tidak mau, senyumku mengembang karena mendaapot limpahan darinya, tapi hatiku menjerit karena malu, bergantung pada orang.
aku memang tidak funky, tapi bukan gembel yang tidak punya kerja dan harga diri. bekerja, menghasilkan uang dan karya adalah caraku untuk membentuk diri.
ketika diriku telah terbentuk utuh, aku sangat yakin Dia akan mengirimkan seseorang yang bisa aku terima apa adanya.
yaa.. untuk cari pacar lagi, bukan tak pernah singgah di kepalaku, cuma aku selalu melupakannya.
aku akan mencari pacar lagi jika:
" aku sudah punya kerjaan tetap, penghasilan tetap dan mencukupi buatku dan rayez dan kami juga bisa nabung"
mnegapa???
"kalau sekarang, aku takut, kriteria pertama dari pacar yang aku cari adalah: kaya, bisa mencukupi semua kebutuhan ku dan rayez".
kenaap tidak??
"aku akan bersyukur jika nanti setelah aku kaay aku mendaptkan seseorang yang kaay juga. dan kami akan bersama mengelola kekayaan kami. tapi sekarang, aku tidak mau, senyumku mengembang karena mendaapot limpahan darinya, tapi hatiku menjerit karena malu, bergantung pada orang.
aku memang tidak funky, tapi bukan gembel yang tidak punya kerja dan harga diri. bekerja, menghasilkan uang dan karya adalah caraku untuk membentuk diri.
ketika diriku telah terbentuk utuh, aku sangat yakin Dia akan mengirimkan seseorang yang bisa aku terima apa adanya.
Selasa, 04 Mei 2010
nggak diaku
anda berdiskusi panjang lebar dengan seseorang. membuat pegal tangan mengetiknya atau berbusa mulut jadinya. terkesan dari pembicaraan itu adalah, rekan bicara anda setuju dengan anda dan mengesankan betapa ia mengagumi anda, atas ide briliant, atas komitmen atas isi kepala anda. tentunya wajar kalau anda merasa bangga toh dengan pujian itu,,?
namun, ketika waktu berlalau.anda sudah bergelut lagi dengan berbagai diskusi lain tema dengan mitra cerita n diskusi yang berbeda juga tentunya.
namun, once, anda lihat bahwa teman mitra anda ayng pertama mengutip atau paling tidak mengungkapkan hal yang sam yang anda ucapkan ke dia waktu diskusi diskusi anda dengannya, namun dia menyebut sumbernya BUKAN anda!
apa reaksi anda?
1. marah
"sial. itukan kata kata gua ke dia. kok dia malah bilang itu dari orang lain"
2" masih marah
" sial, itu kan kata kata gua. kok di nggak nyamtumin referensinya sih?"
3. sabar
"mungkin , dia memang berdiskusi untuk topik yang sama dengan begitu banyak orang dan anda bukan lah orang yang benenr2 cekokin hal itu ke dia. mun gkin karena dia mengganggap anda bukan sapa sapa. atau juga karena anda nggak ngejual kalo ditarok nama anda di publish sldi-nya dia".
4.
5.
etc
lalu apa yang diambil dari hal ini?
coba berpikir positif: " yang pentingkan kan kita dah ngasih sesuatu. dan niatkan ikhlas. dan semoga hasilnya berkah. itu saja"
pikiran negatif juga pengen eksis niy " lain kali aku tidak akan pernah mau diskusi lagi ama dia".
it's you who decide.
namun, ketika waktu berlalau.anda sudah bergelut lagi dengan berbagai diskusi lain tema dengan mitra cerita n diskusi yang berbeda juga tentunya.
namun, once, anda lihat bahwa teman mitra anda ayng pertama mengutip atau paling tidak mengungkapkan hal yang sam yang anda ucapkan ke dia waktu diskusi diskusi anda dengannya, namun dia menyebut sumbernya BUKAN anda!
apa reaksi anda?
1. marah
"sial. itukan kata kata gua ke dia. kok dia malah bilang itu dari orang lain"
2" masih marah
" sial, itu kan kata kata gua. kok di nggak nyamtumin referensinya sih?"
3. sabar
"mungkin , dia memang berdiskusi untuk topik yang sama dengan begitu banyak orang dan anda bukan lah orang yang benenr2 cekokin hal itu ke dia. mun gkin karena dia mengganggap anda bukan sapa sapa. atau juga karena anda nggak ngejual kalo ditarok nama anda di publish sldi-nya dia".
4.
5.
etc
lalu apa yang diambil dari hal ini?
coba berpikir positif: " yang pentingkan kan kita dah ngasih sesuatu. dan niatkan ikhlas. dan semoga hasilnya berkah. itu saja"
pikiran negatif juga pengen eksis niy " lain kali aku tidak akan pernah mau diskusi lagi ama dia".
it's you who decide.
Permainan kata: sarana estetika untuk berkirim pesan pada media massa (sebuah pembahasan metaforis ‘ntuk metafora)
Permainan kata biasanya digunakan oleh para jurnalis daalm tulisan tulisan mereka di media massa. Tujuannya tidak lain adalah untuk mempermudah si pembaca memahami apa yang mereka tulis, untuk mempermudah transfer informasi dari mereka ke pembaca dan juga adaalh untuk menciptakan efek estetika-keindahan dalam tulisan mereka. Untuk yang terakhir, walau artikel Koran bukanlah sebuah puisi, novel atau prosa; sebuah karya sastra, namun tujuan utama dari mereka semua adalah sama:TRANSFER INFORMASI dari penulis ke pembacanya. Dan permainan kata, diyakini sebagai sesbuah sarana efektif untuk menjembatani perpindahan informasi tersebut.
Permainan kata yang sering kita lihat di media media massa adalah penggunaan metafora. Metafora pada kamus Petit Robert 1 (1971,Paris) diartikan sebagai permainan bahasa yang mentransfer kesan kesan analogis. Sementara itu pada kamus Bahasa Indonesia Lengkap (Apollo Surabaya, 1997-Daryanto) mengatakan bahwa metafora adalah perumpamaan kata sehingga mempunyai makna sendiri, pemakaian kata sebagai lukisan berdasarkan persamaan / perbandingan. Dan yang penting dari kedua referensi ini adalah pengungkapan metafora sebagai sarana untuk memunculkan kesan estetika-keindahan.
Berikut mari coba kita lihat contoh penerapannya yang dalam hal ini, penulis mengambil contoh pemberitaan mengenai makelar kasus khususnya tentang Gayus Tambunan yang dimuat pada Koran Media Indonesia tanggal 1 April 2010.
“Bagaimana mau membersihkan sedangkan sapunya sendiri tidak bersih” ( Satria, pada rubrik Suara Anda).
pada makna sehari hari adalah alat untuk membersihkan sesuatu. Misalnya sampah, kotoran atau sesuatu yang memang ingin disingkirkan oleh yang menyapu. Pada kutipan di atas, sapu digunakan untuk merujuk alat/instansi yang seharusnya membersihkan yaitu kepolisian dan yang harus dibersihkan oleh kepolisian ini atau sesuatu yang dianggap kotor, dianggap sampah dan tidak diingini keberadaannya adalah makelar kasus. Sehingga, jika kita interpretasikan kutipan di atas, menyiratkan sebuah opini atau sikap seorang pembaca Koran, atau mungkin opini ayng sebenarnya sudah umum, bahwa mereka tidak lagi percaya akan “kebersihan” alat yang dipakai untuk membersihkan markus. Ada ketidakpercayaan pada kepolisian. Hal ini bisa jadi karena beberapa alasan, seperti; karena banyaknya kasus kasus yang selama ini ditangani polisi, tapi tidak jelas kemudian penyelesaiannya, atau malah ada penyelesaian tapi hasil akhirnya tidak memuaskan mereka. Alasan berikutnya, yang sekarang sekarang sedang berkembang luas yaitu, bahwa alat pembersih ini sama kotor nya dengan apa yang akan dibersihkan. Bahwa pada instansi pembersih ini, juga banyak terdapa borok borok yang mungkin sama atau malah lebih besar dari borok yang ingin mereka bersihkan. Kalau kita kembali memakai permainan kata untuk menyimpulkan ini, mungkin akan berbunyi seperti “ kotor ketemu kotor hasilnya sia sia, tak terselesaikan, tak ada penyelesaian “bersih”.
Penggunaan kata “sapu” dan kemudian berarti lebih jauh ketidakpercayaan kepada sapu itu (kepolisian) juga terdapat pada kutipan di bawah ini, yang juga dari Koran Media Indonesia pada hari yang sama.
“Yang jelas sapu yang kotor tidak boleh dipakai untuk menyapu kasus kasus mafia hukum. Bila sapu kotor yang dipakai, sama artinya hanya pelaku kelas teri yang ditangkap, sedangkan yang kelas kakap dibiarkan berleha leha menikmati hasil menggasak uang Negara” (Editorial)
Pada kutipan di atas, ada permainan kata lain yang dipakai, yaitu. Pertama, untuk kata “kelas”, pada penggunaan sehari hari, kelas mengacu pada tingkatan, tahapan misalnya di sekolahan, ada keals 1, kelas 2 dan seterusnya; hal ini mengacu bahwa ketika memasuki sekolah, harus dari kelas 1 dulu, baru kemudian kelas 2 dan begitu selanjutnya. Dengan demikian juga berarti bahwa kelas 2 itu lebih tinggi dari kelas 1, kelas 3 lebih tinggi tingkatannya dari kelas 2 dan kelas 1 dan seterusnya.
Pad kutipan di atas, kata kelas disandingkan dengan kata teri dan kakap. Sebagaimana kita ketahui bersama, teri dan kakap adalah nama nama ikan yang biasanya ditemukan di laut. Perbedaannya? Terletak pada ukuran mereka. Teri hanyalah ikan ikan kecil yang kalau kemana maan biasanya bergerombolan. Sedang kakap adalah ikan yang sangat besar, yang jika dibandingkan dengan teri, mungkin berpuluh atau malahan beratus ratus kali lipatnya.
Dengan penjelasan di atas, bisa kita artikan bahwa, kelas teri bisa disamakn dengan kelas rendah, kelas satu, kelas kecil. Sedangkan kelas kakap untuk pengertian sebaliknya.
Kembali ke konteks, Gayus dan permarkusan, pada Editorial Media Indonesia di atas, erungkap kegelisahan editor yang mungkin juga adalah kegelisahan pembaca semua bahwa, jika untuk kasus kasus mafia hukum ditangani oleh kepolisian yang juga “mafia” yang tidak bersih, dikhawatirkan yang berhasil terungkap nantinya hanyalah kasus kasus kecil, kasus kasus yang hanya merugikan Negara dalam nominal yang kecil. Dan bukan kasus kasus besar yang tingkat merugikan negaranya berbanding lurus, besar juga! Untuk menekankan lagi kekhwatirannya ini, editor menutup kalimatnya dengan “kelas kakap dibiarkan berleha leha menikmati hasil menggasak uang Negara”, yang kembali mengingatkan kita bahwa jika alat pembersihnya kotor, maka yang akan dibersihkannya, bukannya ditangkap tapi malahan dibiarkan menikmati hasil jarahannya terhadap uang Negara. Kata menggasak, digunakan di sini juga untuk lebih menekankan betapa yang berada di kelas kakap itu mengambil dengan paksa, dengan tidak resmi dengan kasar uang Negara. Tindakan dari menggasak, dalam bahasa sehari hari menimbulkan akibat atau bekas yang “jelek” pada yang digasak. Ini berarti, perbuatan kelas kakap akan meninggalkan bekas atau masalah baru dan daalm hal ini pada keuangan Negara. Sehingga, tindakan untuk membersihkan para mafia hukum yang berkelas kaakp ini sangat diperlukan dan harus segera namun dengan catatan cetak tebal bahwa harus dibersihkan oleh “sapu” oleh aparat kepolisian yang bersih. Itu harga mati.
Pemakaian perbandingan besar dan kecil, tinggi dan rendah, atas dan bawah juga selaras dengan kutipan ungkapan di bawah ini:
“Kalau yang bau itu keluarnya dari bawah, itu sih wajar. Tetapi sekarang baunya sudah keluar dari atas” (Suara pembaca.)
Pada kutipan di atas, bisa kita interpretasikan bahwa si pembaca melalui surat pembaca, mengungkapkan pendapatnya bahwa kebobrokan itu sekarang terasa, berbau atau dilakukan oleh orang orang “atas” , dalam arti orang orang yang selama ini dinila masyarakat umum sebagai orang orang dengan kedudukan terhormat, orang orang dengan perilaku suci nan alim, orang orang yang menjadi contoh atau bahkan menjadi tukang koreksi bawahannya / orang yang di bawahnya. Bisa juga yang dimaksudkan dengan di atas di sini adalah pemimpin Negara.
Kemudian phrase-nya yang mengatakan bau-dari bawah biasa, bukan berarti kesalahan, perbuatan jahat atau perbuatan melanggar dari bawahan, dari rakayat biasa dimaklumi. Namun, semua ini juga mengacu pada apa yang selama ini disuguhkan, atau diungkap melalui kepolisian atau pun media massa. Yaitu yang selalu disorot adalah ayng kecil, yang maling ayam, maling terong tetangga, atau maling semangka satu biji karena haus sepulang kerja. Ini berarti, jika selama ini kita masyarakat umum disuguhkan “bau” dari bawah sekarang dari atas pun juga bau.
Perlu ditekankan di sini, bau yang dimaksud adalah bau kentut; bau kentut jika ia keluar dari bawah (pantat) itu biasa. Namun jika keluar dari atas (kepala,dll) itu tidak biasa toch!!!
Nah, kemudian untuk semua permasalahan yang dikeluhkan oleh banyak pihak di atas, apa kemudian yang harus dilakukan? Yang harus dilakukan adalah:
“Gayus bernyanyilah!!” (judul berita utama)
Gayus adalah seorang pegawai dirjen paajk yang menghebohkan Indonesia dengan kepemilikan uang di rekeningnya sebesar 28 M dan juga kepemilikan rumah rumah mewah, yang dirasa tidak “pantas” dimiliki oleh seorang pegawai yang hanya bergaji 11 juta per bulannya. Gayus dianggap sebagai seorang makelar kasus terutama yang berkaitan dengan pajak. Namun semuanya meyakini juga bahwa Gayus hanyalah aktornya saja dan sutradara atau malah sang produser yang memiliki kekuasaan, kekayaan, kemampuan lebih besarnya belum terungkap. Nah jika terungkap, gumpalan benang kusut permasalahan ini akan terungkap. Syarat hanya satu: Gayus bernyanyi!
Bernyanyi di sini kembali merupaakn sebuah permainan kata. Gayus tidak diminta untuk membawakan sebuah lagu dengan irama tertentu dengan gaya tertentu, tapi Gayus diminta untuk bicara, untuk membeberkan semua hal ayng dia ketahui tentang makealr kasus, tentang mekanisme kerjanya dan yang terpenting juga adalah tentang yang terlibat pada kasus kasu permakelaran ini. Mulai dari yang paling kecil hingga yang palingn besar dan pintu masuknya adalah kasus Gayus itu sendiri. Semua berharap, jika kasus Gayus dijadikan pintu masuk yang pas dalam penyelesaian masalah permarkusan ini. Dan kasus kasus lainnya pun segera terselesaikan.
DARI uraian panjang lebar, terlihat pemakaian permainan kata yang dalam hal ini metafora di media media massa, menjadi jembatan yang efektif untuk mengantarkan maksud jurnalis ke pembaca media-nya. Kata atau ungkapan yang mereka metaforakan, yang walau pun hanya sepenggal kata, bisa menyajikan gambaran utuh maksud jurnalis ke ruang pemahaman pembacanya. Nilai estetika yang juga diemban oleh metafora, menjadikan tulisan para jurnalis ini tidak kaku, layaknya laporan ilmiah, namun mengalir merdu dan langsung berhasil dijiwai oleh penikmat “puisi” berita tersebut.
Metafora berhasil menjalankan misi para penggunanya, yang dalam hal ini para jurnalis, untuk memberikan informasi kepada pembacanya, dan juga berhasil menjalankan misi kemetaforaannya sendiri!
***
Permainan kata yang sering kita lihat di media media massa adalah penggunaan metafora. Metafora pada kamus Petit Robert 1 (1971,Paris) diartikan sebagai permainan bahasa yang mentransfer kesan kesan analogis. Sementara itu pada kamus Bahasa Indonesia Lengkap (Apollo Surabaya, 1997-Daryanto) mengatakan bahwa metafora adalah perumpamaan kata sehingga mempunyai makna sendiri, pemakaian kata sebagai lukisan berdasarkan persamaan / perbandingan. Dan yang penting dari kedua referensi ini adalah pengungkapan metafora sebagai sarana untuk memunculkan kesan estetika-keindahan.
Berikut mari coba kita lihat contoh penerapannya yang dalam hal ini, penulis mengambil contoh pemberitaan mengenai makelar kasus khususnya tentang Gayus Tambunan yang dimuat pada Koran Media Indonesia tanggal 1 April 2010.
“Bagaimana mau membersihkan sedangkan sapunya sendiri tidak bersih” ( Satria, pada rubrik Suara Anda).
Penggunaan kata “sapu” dan kemudian berarti lebih jauh ketidakpercayaan kepada sapu itu (kepolisian) juga terdapat pada kutipan di bawah ini, yang juga dari Koran Media Indonesia pada hari yang sama.
“Yang jelas sapu yang kotor tidak boleh dipakai untuk menyapu kasus kasus mafia hukum. Bila sapu kotor yang dipakai, sama artinya hanya pelaku kelas teri yang ditangkap, sedangkan yang kelas kakap dibiarkan berleha leha menikmati hasil menggasak uang Negara” (Editorial)
Pada kutipan di atas, ada permainan kata lain yang dipakai, yaitu
Pad kutipan di atas, kata kelas disandingkan dengan kata teri dan kakap. Sebagaimana kita ketahui bersama, teri dan kakap adalah nama nama ikan yang biasanya ditemukan di laut. Perbedaannya? Terletak pada ukuran mereka. Teri hanyalah ikan ikan kecil yang kalau kemana maan biasanya bergerombolan. Sedang kakap adalah ikan yang sangat besar, yang jika dibandingkan dengan teri, mungkin berpuluh atau malahan beratus ratus kali lipatnya.
Dengan penjelasan di atas, bisa kita artikan bahwa, kelas teri bisa disamakn dengan kelas rendah, kelas satu, kelas kecil. Sedangkan kelas kakap untuk pengertian sebaliknya.
Kembali ke konteks, Gayus dan permarkusan, pada Editorial Media Indonesia di atas, erungkap kegelisahan editor yang mungkin juga adalah kegelisahan pembaca semua bahwa, jika untuk kasus kasus mafia hukum ditangani oleh kepolisian yang juga “mafia” yang tidak bersih, dikhawatirkan yang berhasil terungkap nantinya hanyalah kasus kasus kecil, kasus kasus yang hanya merugikan Negara dalam nominal yang kecil. Dan bukan kasus kasus besar yang tingkat merugikan negaranya berbanding lurus, besar juga! Untuk menekankan lagi kekhwatirannya ini, editor menutup kalimatnya dengan “kelas kakap dibiarkan berleha leha menikmati hasil menggasak uang Negara”, yang kembali mengingatkan kita bahwa jika alat pembersihnya kotor, maka yang akan dibersihkannya, bukannya ditangkap tapi malahan dibiarkan menikmati hasil jarahannya terhadap uang Negara. Kata menggasak, digunakan di sini juga untuk lebih menekankan betapa yang berada di kelas kakap itu mengambil dengan paksa, dengan tidak resmi dengan kasar uang Negara. Tindakan dari menggasak, dalam bahasa sehari hari menimbulkan akibat atau bekas yang “jelek” pada yang digasak. Ini berarti, perbuatan kelas kakap akan meninggalkan bekas atau masalah baru dan daalm hal ini pada keuangan Negara. Sehingga, tindakan untuk membersihkan para mafia hukum yang berkelas kaakp ini sangat diperlukan dan harus segera namun dengan catatan cetak tebal bahwa harus dibersihkan oleh “sapu” oleh aparat kepolisian yang bersih. Itu harga mati.
Pemakaian perbandingan besar dan kecil, tinggi dan rendah, atas dan bawah juga selaras dengan kutipan ungkapan di bawah ini:
“Kalau yang bau itu keluarnya dari bawah, itu sih wajar. Tetapi sekarang baunya sudah keluar dari atas” (Suara pembaca.)
Pada kutipan di atas, bisa kita interpretasikan bahwa si pembaca melalui surat pembaca, mengungkapkan pendapatnya bahwa kebobrokan itu sekarang terasa, berbau atau dilakukan oleh orang orang “atas” , dalam arti orang orang yang selama ini dinila masyarakat umum sebagai orang orang dengan kedudukan terhormat, orang orang dengan perilaku suci nan alim, orang orang yang menjadi contoh atau bahkan menjadi tukang koreksi bawahannya / orang yang di bawahnya. Bisa juga yang dimaksudkan dengan di atas di sini adalah pemimpin Negara.
Kemudian phrase-nya yang mengatakan bau-dari bawah biasa, bukan berarti kesalahan, perbuatan jahat atau perbuatan melanggar dari bawahan, dari rakayat biasa dimaklumi. Namun, semua ini juga mengacu pada apa yang selama ini disuguhkan, atau diungkap melalui kepolisian atau pun media massa. Yaitu yang selalu disorot adalah ayng kecil, yang maling ayam, maling terong tetangga, atau maling semangka satu biji karena haus sepulang kerja. Ini berarti, jika selama ini kita masyarakat umum disuguhkan “bau” dari bawah sekarang dari atas pun juga bau.
Perlu ditekankan di sini, bau yang dimaksud adalah bau kentut; bau kentut jika ia keluar dari bawah (pantat) itu biasa. Namun jika keluar dari atas (kepala,dll) itu tidak biasa toch!!!
Nah, kemudian untuk semua permasalahan yang dikeluhkan oleh banyak pihak di atas, apa kemudian yang harus dilakukan? Yang harus dilakukan adalah:
“Gayus bernyanyilah!!” (judul berita utama)
Gayus adalah seorang pegawai dirjen paajk yang menghebohkan Indonesia dengan kepemilikan uang di rekeningnya sebesar 28 M dan juga kepemilikan rumah rumah mewah, yang dirasa tidak “pantas” dimiliki oleh seorang pegawai yang hanya bergaji 11 juta per bulannya. Gayus dianggap sebagai seorang makelar kasus terutama yang berkaitan dengan pajak. Namun semuanya meyakini juga bahwa Gayus hanyalah aktornya saja dan sutradara atau malah sang produser yang memiliki kekuasaan, kekayaan, kemampuan lebih besarnya belum terungkap. Nah jika terungkap, gumpalan benang kusut permasalahan ini akan terungkap. Syarat hanya satu: Gayus bernyanyi!
Bernyanyi di sini kembali merupaakn sebuah permainan kata. Gayus tidak diminta untuk membawakan sebuah lagu dengan irama tertentu dengan gaya tertentu, tapi Gayus diminta untuk bicara, untuk membeberkan semua hal ayng dia ketahui tentang makealr kasus, tentang mekanisme kerjanya dan yang terpenting juga adalah tentang yang terlibat pada kasus kasu permakelaran ini. Mulai dari yang paling kecil hingga yang palingn besar dan pintu masuknya adalah kasus Gayus itu sendiri. Semua berharap, jika kasus Gayus dijadikan pintu masuk yang pas dalam penyelesaian masalah permarkusan ini. Dan kasus kasus lainnya pun segera terselesaikan.
DARI uraian panjang lebar, terlihat pemakaian permainan kata yang dalam hal ini metafora di media media massa, menjadi jembatan yang efektif untuk mengantarkan maksud jurnalis ke pembaca media-nya. Kata atau ungkapan yang mereka metaforakan, yang walau pun hanya sepenggal kata, bisa menyajikan gambaran utuh maksud jurnalis ke ruang pemahaman pembacanya. Nilai estetika yang juga diemban oleh metafora, menjadikan tulisan para jurnalis ini tidak kaku, layaknya laporan ilmiah, namun mengalir merdu dan langsung berhasil dijiwai oleh penikmat “puisi” berita tersebut.
Metafora berhasil menjalankan misi para penggunanya, yang dalam hal ini para jurnalis, untuk memberikan informasi kepada pembacanya, dan juga berhasil menjalankan misi kemetaforaannya sendiri!
***
Stay committed to your commitment
Wise man said ada dua jenis komitmen:
1. Komitmen yang hanya diucapkan tanpa dijalani.
Saam dengan kata tanpa arti, janji yang dilanggar dan sumpah yang nggak setia. Orang yang berkomitmen seperti ini jelas punya self image yang negative. Rapuh dan nggak bisa diandalkan.
2. The real commitment
Sebuah kepastian yang mencerminkan kehormatan pemiliknya.
Beberapa cara yang bisa diambil agr punya komitmen kayak gini:
a. Set the goal
A motivation create persistence n persistence gets the job done. Besar kecilnya tujuan bukan masalah selama yakin kalau kamu benar benar menginginkan hal itu. Yang penting, keep ur self focus by making it specific, keep it short.
b. Visualize it
Cari gambar yang merepresentasikan keinginan, kemudian tarok di rumah di tempat yang gampang dilihat.
c. Just do it
Ide sederhana yang diwujudkan, jauh lebih baik disbanding ide brilian yang mati karena nggak direalisasikan. Goethe “ whatever you can do or dream you can, do it!”
d. Supporting surroundings
Lingkungan sekitar berpengaruh besar pada kesuksesan komitmen seseorang. Let everybody know about your commitment dan minta mereka untuk mendukungnya. And, hindari lingkungan yang bertolak belakang dengan komitment.
e. Inspiring moments
Motivasi dan komitmen itu seperti tubuh kita juga. Tumbuh semakin besar jika diberi makanan. Motivasi bisa dating dari mana saja. baca biografi yang punya gol sama dan feature feature keren.
f. No excuse, no complaining
D. Schwartz “ the magic of thinking big” berbagai alasan mungkin memang ada tapi nggak dibuat oleh orang sukses. Exactly! Orang sukses tahu harga yang harus dibayar untuk mencapai sebuah tujuan dan nggak membuat buat alasan sebagai pembenaran kalau dia gagal atau menemui kesulitan. As a matter of fact, itulah arti sebenarnya sebuah komitmen.
g. Overcome obstacles
Komitmen juga berarti siap ambil resiko dan menghadapi segala jenis halangan. Henry Ford pernah bilang kalau hambatan adalah sesuatu ayng kita lihat saat kita mengalihakn pandangan dari tujuan. So, just stick to your goal when you have obstacles, then nothing else matter.
h. Finish what you start
Telur setengah matang sih enak dimakan. Kalau pekerjaan setengah jadi, apa gunanya? Kalau udah begini, what will you get except for the fact that you are not strong enough to fight for what you want? Komitmen juga berarti bertanggung jawab terhadap apa yang udah kamu mulai. Buktikan sama dunia that you are not a quitter.
Gogirl!30 / juli 2007
1. Komitmen yang hanya diucapkan tanpa dijalani.
Saam dengan kata tanpa arti, janji yang dilanggar dan sumpah yang nggak setia. Orang yang berkomitmen seperti ini jelas punya self image yang negative. Rapuh dan nggak bisa diandalkan.
2. The real commitment
Sebuah kepastian yang mencerminkan kehormatan pemiliknya.
Beberapa cara yang bisa diambil agr punya komitmen kayak gini:
a. Set the goal
A motivation create persistence n persistence gets the job done. Besar kecilnya tujuan bukan masalah selama yakin kalau kamu benar benar menginginkan hal itu. Yang penting, keep ur self focus by making it specific, keep it short.
b. Visualize it
Cari gambar yang merepresentasikan keinginan, kemudian tarok di rumah di tempat yang gampang dilihat.
c. Just do it
Ide sederhana yang diwujudkan, jauh lebih baik disbanding ide brilian yang mati karena nggak direalisasikan. Goethe “ whatever you can do or dream you can, do it!”
d. Supporting surroundings
Lingkungan sekitar berpengaruh besar pada kesuksesan komitmen seseorang. Let everybody know about your commitment dan minta mereka untuk mendukungnya. And, hindari lingkungan yang bertolak belakang dengan komitment.
e. Inspiring moments
Motivasi dan komitmen itu seperti tubuh kita juga. Tumbuh semakin besar jika diberi makanan. Motivasi bisa dating dari mana saja. baca biografi yang punya gol sama dan feature feature keren.
f. No excuse, no complaining
D. Schwartz “ the magic of thinking big” berbagai alasan mungkin memang ada tapi nggak dibuat oleh orang sukses. Exactly! Orang sukses tahu harga yang harus dibayar untuk mencapai sebuah tujuan dan nggak membuat buat alasan sebagai pembenaran kalau dia gagal atau menemui kesulitan. As a matter of fact, itulah arti sebenarnya sebuah komitmen.
g. Overcome obstacles
Komitmen juga berarti siap ambil resiko dan menghadapi segala jenis halangan. Henry Ford pernah bilang kalau hambatan adalah sesuatu ayng kita lihat saat kita mengalihakn pandangan dari tujuan. So, just stick to your goal when you have obstacles, then nothing else matter.
h. Finish what you start
Telur setengah matang sih enak dimakan. Kalau pekerjaan setengah jadi, apa gunanya? Kalau udah begini, what will you get except for the fact that you are not strong enough to fight for what you want? Komitmen juga berarti bertanggung jawab terhadap apa yang udah kamu mulai. Buktikan sama dunia that you are not a quitter.
Gogirl!30 / juli 2007
Langganan:
Komentar (Atom)