Tanggal 5 juli 2010
hari ini adalah hari pertamaku ke bank. Aku nemenin bunda ke bank transferin uang kontrakan. Kami ke atm mandiri dulu ambil uang kemudian baru ke bank bca. Harus tranfer lewat teller kata bunda, karena bunda g punya rekening bca. Sambil gendong aku bunda ngisi form pengiriman uang. Sepertinya, pak satpam melihat bunda kerepotan, akhirnya ia datang dan membantu bunda mengisi form itu. Setelah selesai, bunda kira bahwa tellernya di bawah, di lantai satu itu, ternyata ada di lantai dua. Dag dig dug bunda naik ke lantai dua sambil gendong aku. Kata bunda, kalau sendiri aja suka rada rada disorientasi apalagi kalau sambil gendong aku. Tapi Alhamdulillah berhasil.
Tapi sewaktu kami sampai di atas, antrian sudah panjang banget. Mau tak mau kami ngantri di urutan buncit namun selang beberapa detik saja kemudian ada lagi yang lebih buncit. Tapi aku tak betah. Aku lihat tangga ke lantai tiga dan segera saja aku meronta minta bunda lepaskan gendongannya. Aku kemudian menuju tangga tapi bunda keburu menangkapku. Aku kembali ke antrian. Aku tak tahan, akhirnya bunda ajak aku lihat semua gantungan dinding di ruangan itu. kami lihat semua gambar ayng ada di sana dan bunda membaccakannya untukku.
Mungkin karena bunda sudah capek, bunda mendudukkan aku ke tempat pengisian form dan memperbolehkan aku memainkan pulpun yang ada kabelmnya. Aku kira itu telepon dn alngsungsaja aku telepon dan bilang “bapak..alo..bapak..”. Lalu aku menemukan permainan seru yaitu menarik dan meletakkan pulpen tadi algi. Dan berulang rulang. Aku juga mencoret coret dinding tapi bunda ngelarang dan memberikan padaku notes. Awalnya aku menulis disana, tapi kemudian aku coret lalgi gambar dinding yang di depanku. Kemudain adadua orang yang mau menisi form. Awalnya bunda biarkan aku tetap duduk, tapi aku malah ikutan mengisi form orang itu dan dia sih diam aja tapi kayaknya marah tapi dipendam. Lalu bunda mengedongku.
Lalu perhatian kami beralih ke seorang aank kecil juga namun lebih tua dari ku beberapa tahun yang sedang memainkan tempat samaph. Ia membuka tutup tempat sampah itu dan kemudian menutupnya lagi begitu terus. Aku tertarik. Begitu dia sudah selesai dan pergi dengan bundanya, aku melakuakn hal yang sama dengan ayng dilakukannya. Bunda membiarkanku hanay bilang “hsti hati”. Tapi akrena ku terlalu bersemangat, tanganku sedikit kejepit tapi segera berhasil lolos. Bunda kahirnya bilang “ok, udah” dan menggendongku menjauh dari tempat sampah kertas itu. Ohya semua pengunjung bank yang sedang antri berdiri atau pun duduk sepertinya melihatku dan bunda. Tapi kami berdua cuek saja.
Lalu karena bunda ngeh bahwa aku nggak akan betah berdiri ngantri akhrinya Kami pergi dari satu tanaman ke tanaman yang lainnya di tempat itu. Tapi setiap aku tarik, kok daunnya nggak copot ya? Oh ternyata dari plastik. Kemudain giliran kami sudah mendekat, sekitar lima orang lagi di depan kami. Bunda pun memutuskan untuk kami masuk ke barisan. Tapi aku tidak mau karena di depan dan belakangku ada orang asing dan mereka semua melihatku. Aku risih, aku minta turun dan aku malahan melewati tali pembatas dan pergi ke jalur lain. Karena aku kecil aku bisa melewati kaki kaki orang dewasa, tapi bunda? Hahaah.. dia jadinya minta maaf ke semua orang dan mengejarku..
kemudian ketika sudah berhasil menangkapku, bunda menggendongku erat dan kami akhrinya ngnatri di bagian luar pita pembatas dan seorang ibu yang awalnya bunda berencana mempesilahkan ibu itu duluan, tapi akhirnya dia mempersilahkan bunda.
Karena aku nggak mau diam, bunda kesulitan mengambil form yang sudah disi dan uang. Dan juga ktp. Akhirnya bunda menarok aku dibawah sebentar dan kesempatan itu tidak aku lewatkan, begitu kakiku menginjak lantai, aku segera berlari dan bunda mengejarku dan meninggalkan teller. Setelah berhasil menangkapku lagi, bunda kembali ke teller dan menunggu petugasnya. Kata bunda, kok lama bangetya petugas ini. Mungkin karena aku terus meronta pengen turun.
Setelah selesai ada lagi tantangan, yaitu turun tangga. Bunda meluk aku erat banget dan kami turuni anak tangga satu per satu. Setelah sampai di bawah, bunda berseru Alhamdulillah. Tapi ternyata ada tantangan lagi. Pintu bank sudah ketutup setengah dan akhrinya kami harus menunduk untuk melewatinya dan bunda sambil menggendongku. Cukup susah tapi kami berhasil.
Tiba di luar, udara jadi sngat panas banget. Bunda lalu mencari pedagang cendol dan sambil nunggu antrian beli cendol, karena sangat haus bunda beli teh melati. Tapi bunda tentu cuma kebagian sedikit,akulah yang dapat paling banyak, setelah dapat cendol bagian kami, kami pulang. Rencananya mau naik angkot, tapi karena kecapekan banget kami akhirnya naik ojek. Dan sampai di rumah, bunda langsung buka es cendol, dan seperti nasib teh melati tadi, akulah yang dapat bagian paling banyak. Cendolnya, kuahnya dan juga esnya.. mmhmhmhm yummmmiiii.
ranah dimaknai sebagai tempat asal bertumbuh dan menetap selamanya kata kata dari pikiran dari hati dan terkadang tidak dari dua duanya hanya dari jarijari dan sekonyong terbit disini
Rabu, 20 Oktober 2010
Senin, 18 Oktober 2010
let the sun shine on your face-
Wake up one morning you realize
Your life is one big compromise (compromise)
Stuck in the job you swore was only temporary (was only temporary)
Feel like the world is passing you by (do do do do do)
Never done all the things you would need to try
Stuck in one place, got a pain in your face from all your stressin’ out (all your stressin’ out)x2
You ask yourself there’s got to be more than what I’m living for (what I’m living for) x2
You ask yourself there’s got to be something else, something more, more, more
Well let the sun shine on your face
And don’t let your life go to waste
Now is the time, got to make up your mind
Let it shine on you, let it shine on you
Feel like there’s nothing nowhere to go
You try and fight but you can’t let go
Roll the pain, got so much to gain
Now is the time
You ask yourself there’s got to be something else, something more, more, more
Well let the sun shine on your face
And don’t let your life go to waste
Now is the time, got to make up your mind
Find More lyrics at www.sweetslyrics.com
Let it shine on you, let it shine on you
You ask yourself there’s got to be more than what I’m living for (what I’m living for) x2
You ask yourself there’s got to be something else, something more, more, more
Well let the sun shine on your face
And don’t let your life go to waste
Now is the time, got to make up your mind
Let it shine on you, let it shine on you
Well let the sun shine on your face
And don’t let your life go to waste
Now is the time, got to make up your mind
Let it shine on you, let it shine on you
Well let the sun shine on your face
And don’t let your life go to waste
Now is the time, got to make up your mind
Let it shine on you, let it shine on you
Your life is one big compromise (compromise)
Stuck in the job you swore was only temporary (was only temporary)
Feel like the world is passing you by (do do do do do)
Never done all the things you would need to try
Stuck in one place, got a pain in your face from all your stressin’ out (all your stressin’ out)x2
You ask yourself there’s got to be more than what I’m living for (what I’m living for) x2
You ask yourself there’s got to be something else, something more, more, more
Well let the sun shine on your face
And don’t let your life go to waste
Now is the time, got to make up your mind
Let it shine on you, let it shine on you
Feel like there’s nothing nowhere to go
You try and fight but you can’t let go
Roll the pain, got so much to gain
Now is the time
You ask yourself there’s got to be something else, something more, more, more
Well let the sun shine on your face
And don’t let your life go to waste
Now is the time, got to make up your mind
Find More lyrics at www.sweetslyrics.com
Let it shine on you, let it shine on you
You ask yourself there’s got to be more than what I’m living for (what I’m living for) x2
You ask yourself there’s got to be something else, something more, more, more
Well let the sun shine on your face
And don’t let your life go to waste
Now is the time, got to make up your mind
Let it shine on you, let it shine on you
Well let the sun shine on your face
And don’t let your life go to waste
Now is the time, got to make up your mind
Let it shine on you, let it shine on you
Well let the sun shine on your face
And don’t let your life go to waste
Now is the time, got to make up your mind
Let it shine on you, let it shine on you
Selasa, 22 Juni 2010
own citations
Terlalu berat kaki melangkah, walau jarak nya begitu dekat
aku bukan pemenang, tapi aku adalah salah satu petarung handal pada pertarungan hidup ini
berat menerima kenyataan bahwa yang kita sayang, tidak lagi mau memberi sayangnya untuk kita. Namun yang paling berat adalah ketika hati kita di dalam gudang rasanya, sudah tidak lagi menyimpan rasa sayang. Untuk siapapun.
Berat untuk membuatmu percaya. Begitu juga aku. Namun, percayalah. Aku (masih) percaya padamu.
Tidak ada hal hebat yang aku lakukan. Tak pernah ada tepukan meriah untukku. Tak pernah kuterima paket reward atau bonus dari apa yang aku kerjakan. Namun, aku tak akan pernah berhenti untuk melaku hidup.
Aku adalah pejuang cinta dan cita pada satu waktu.
Aku mencium keningnya sembari mengucap jampi berjuta harapan.
Aku melangkahi hidup dengan nafas kasihnya.
Pun aku memeluk mesranya saat aku terluka oleh beribu penolakan nasib baik.
Kenapa dia tidak acuh? Simple saja. Karena baginya, hidup kami bukanlah hidupnya titik
beras kita tinggal seperempat gelas sayang, itu hanya cukup untuk satu kali makan jika kita mau dapat masing masing satu piring. Bisa dua kali makan kalau masing masing setengah piring dan bisa satu hari penuh jika satu jadwal makan kita lewatkan.
Tapi,tenang sayang. Cadangan cinta dan cita kita masih satu gudang yang ukurannya segunung merapi. Kita bisa menggigitnya sedikit demi sedikit jika kita ingin cemilan atau mengambilnya semangkok dan melahapnya berdua sampai kita tertidur kekenyangan oleh mereka.
Kita merepotkan yang tak seharusnya kita repotkan. Tapi dia yang selalu sudi untuk kita repotkan. Dia yang membuat sebagian atau malahan keseluruhan cemas kita sirna. Dia yang sudi repot pikiran dan raganya untuk kita. Dia melakukannya bukan untuk mengharap sesuatu dari kita. Tapi dia lakukan itu semua sembari berharap agar ia mau repot karena kita.
Hatiku sudah penuh dengan kenangan atas sentuhan, tatapan dan perbincangan kita yang melahirkan rasa. Jika pun engkau tidak ada, aku masih bisa menikmatinya dalam ruangan kenangan hatiku. Silahkan pergi menjauh.
Ya syukuri apa yang ada. Adanya kamu jatuh, tak apa apa. Kamu akan melihat hal hal di bawah sana ayng tak bisa kamu lihat saat kamu di atas. Tapi coba tengoklah juga ke atas, ke arah terik matahari. Tidak usah pakai sun block untuk melindungimu, gunakan saja mata tajammu untuk meihatnya sebagai terik penyambuk semangat untuk bangkit dan sebagai cahaya untuk bisa melihat lebih jelas arah melajumu ketika engkau bangkit.
“Melihat tawamu, mendengar senandungmu.” “Menatap indahnya senyuman di wajahmu.” Membuatku tetap menyukaimu. Sekali kusuka akan tetap kusuka kau. No matter what they say.
aku bukan pemenang, tapi aku adalah salah satu petarung handal pada pertarungan hidup ini
berat menerima kenyataan bahwa yang kita sayang, tidak lagi mau memberi sayangnya untuk kita. Namun yang paling berat adalah ketika hati kita di dalam gudang rasanya, sudah tidak lagi menyimpan rasa sayang. Untuk siapapun.
Berat untuk membuatmu percaya. Begitu juga aku. Namun, percayalah. Aku (masih) percaya padamu.
Tidak ada hal hebat yang aku lakukan. Tak pernah ada tepukan meriah untukku. Tak pernah kuterima paket reward atau bonus dari apa yang aku kerjakan. Namun, aku tak akan pernah berhenti untuk melaku hidup.
Aku adalah pejuang cinta dan cita pada satu waktu.
Aku mencium keningnya sembari mengucap jampi berjuta harapan.
Aku melangkahi hidup dengan nafas kasihnya.
Pun aku memeluk mesranya saat aku terluka oleh beribu penolakan nasib baik.
Kenapa dia tidak acuh? Simple saja. Karena baginya, hidup kami bukanlah hidupnya titik
beras kita tinggal seperempat gelas sayang, itu hanya cukup untuk satu kali makan jika kita mau dapat masing masing satu piring. Bisa dua kali makan kalau masing masing setengah piring dan bisa satu hari penuh jika satu jadwal makan kita lewatkan.
Tapi,tenang sayang. Cadangan cinta dan cita kita masih satu gudang yang ukurannya segunung merapi. Kita bisa menggigitnya sedikit demi sedikit jika kita ingin cemilan atau mengambilnya semangkok dan melahapnya berdua sampai kita tertidur kekenyangan oleh mereka.
Kita merepotkan yang tak seharusnya kita repotkan. Tapi dia yang selalu sudi untuk kita repotkan. Dia yang membuat sebagian atau malahan keseluruhan cemas kita sirna. Dia yang sudi repot pikiran dan raganya untuk kita. Dia melakukannya bukan untuk mengharap sesuatu dari kita. Tapi dia lakukan itu semua sembari berharap agar ia mau repot karena kita.
Hatiku sudah penuh dengan kenangan atas sentuhan, tatapan dan perbincangan kita yang melahirkan rasa. Jika pun engkau tidak ada, aku masih bisa menikmatinya dalam ruangan kenangan hatiku. Silahkan pergi menjauh.
Ya syukuri apa yang ada. Adanya kamu jatuh, tak apa apa. Kamu akan melihat hal hal di bawah sana ayng tak bisa kamu lihat saat kamu di atas. Tapi coba tengoklah juga ke atas, ke arah terik matahari. Tidak usah pakai sun block untuk melindungimu, gunakan saja mata tajammu untuk meihatnya sebagai terik penyambuk semangat untuk bangkit dan sebagai cahaya untuk bisa melihat lebih jelas arah melajumu ketika engkau bangkit.
“Melihat tawamu, mendengar senandungmu.” “Menatap indahnya senyuman di wajahmu.” Membuatku tetap menyukaimu. Sekali kusuka akan tetap kusuka kau. No matter what they say.
Senin, 14 Juni 2010
poems2
(4) Dia masih begitu angkuh
tak mau melunak sedikit
dia masih berkuasa
dia bentur benturkan hidupku sesukanya
dia izinkan aku bermimpin tapi dia luluh lantahkan kemudian
dia biarkan aku bangun istana harapan
kemudian kirimkan ombak untuk meratakannya
tapi jangan kau pikir aku kan menyerah
ku punya cukup daya untuk mengalahkan dan
takkan pernah takluk
cam kan itu
wahai hidup
(5)
aku berbuat baik bukan untuk menghindari hal tidak baik darimu
aku berbuat baik bukan untuk menghindari dosa
aku berbuat baik bukan agar kau juga berbaut baik padaku
aku berbuat baik karena aku harus berbuat baik kepadamu
tak mau melunak sedikit
dia masih berkuasa
dia bentur benturkan hidupku sesukanya
dia izinkan aku bermimpin tapi dia luluh lantahkan kemudian
dia biarkan aku bangun istana harapan
kemudian kirimkan ombak untuk meratakannya
tapi jangan kau pikir aku kan menyerah
ku punya cukup daya untuk mengalahkan dan
takkan pernah takluk
cam kan itu
wahai hidup
(5)
aku berbuat baik bukan untuk menghindari hal tidak baik darimu
aku berbuat baik bukan untuk menghindari dosa
aku berbuat baik bukan agar kau juga berbaut baik padaku
aku berbuat baik karena aku harus berbuat baik kepadamu
“Itu apa?”
rayez datang digendong mbak satu harinya masuk ke rumah dan langsung ke dalam kamar. Dia tak pakai baju tapi sudah pakai celana. Sementara pengasuhnya memilih baju dalam lemari, rayez yang mukannya sudah putih belepotan bedak tebal yang tidak rata menghampiri ku yang sedang buru buru menutup semua file untuk meraihnya dan bermain dengannya.
Namun belum selesai tugasku menutup semua file, satu tangannya sudah meraih laptop dan sambil memiringkan kepalanya, “itu apa? “ meluncur cepat, agak keras dan jernih sekali. Sehingga telingaku dan mbak satu harinya juga menagkap hal yang sama sebagai pertanda bahwa rayez memang mengucap “Itu apa?”.
WOW. Sebuah kemajuan luar biasa dalam ujarannya. Sampai tadi pagi aku bertemu dia, dia baru mengucap suku kata akhir dari sebuah kata. Misalnya “dah untuk sudah”, yes untuk rayez”, “tu untuk itu”, “mu untuk mau”. “nda untuk bunda”.
Walau memang ada kata yang sudah bisa sejak lama seperti “mama” dan bapak”. Tapi menyambung kata, dua kata, dan didukung dengan ekspresi dan mendekati sesuatu yang jadi maksud perkataannya, itu LUAR BIASA buatku. Dan ini Amazing. Kok dia tahu ya, kalau ia harus mengucapkan itu? Kok dia tahu kalau dia mau ini, atau mau tau itu, beginilah susunan kata dan intonasi yang harus diucapkan. Dia mampu memilih secara tepat dari bagasi katakatanya dan mengutarakannya.
Satu hal lagi, susunan “itu apa?” yang merupakan pertanyaan menambah lagi kekagumanku. Bertanya, menunjukkan banyak hal menurutku. Menunjukkan kerendahan hati, menunjukkan keingintahuan, menunjukkan keinginan untuk berkomunikasi (karena kalau itu hanya frase semisal”itu laptop”, ada kemungkinan orang tidak akan menanggapi)/ untuk bergaul, dll dll.
Ekspresi mata gedenya yang langsung menatap layar laptop saat ia berhasil menggapainya, sangat hidup, dihidupkan oleh keingintahuan.
Tanya semua yang kamu mau tau cinta..tanya semua. Kalau bunda tak tau jawabannya akan bunda carikan. Atau kita cari bersama.
Tanya semua yang kamu mau cinta. Penuhi dirimu dengan brtumpuk tumpuk pertanyaan. Pertanyaan untuk dunia. Dan jangan pernah menutupi diri atau pikiranmu akan semua kemungkinan jawaban yang akan kamu dapati cinta.
Bertanya, berbicara adalah cara mengenal dunia dan diri mu,cintaku.-”RAYEZ KINDA APRILIADI”.
Rabu, 09 Juni 2010
iri
Iri
kenapa kita tidak boleh iri?
Kenapa iri dicap sebagai perbuatan dosa?
Apakah ada orang yang tidak pernah iri selama hidupnya?
Apakah aku yang sering iri adalah satu satunya di muka bumi ini?
Apakah benar iri itu tanda tak mampu?
Kalau iri dimaksudkan untuk menjadi cambuk, apakah terdengar tidak masuk akal dan malahan terdengar hanya alasan yang dicari cari?
Pasti ada maksudNya untuk meramu hingga tercipta rasa yang bernaam iri ini. Tapi apa?
Atau pertanyaanku kuubah sedikit..
apa hal negatif yang akan tercipata pada diriku jika aku iri?
Atau kah tidak ada sebenarnya?
Atau malah yang muncul hal positif atau setidaknya aku melihatnya secara positif?
Ok, kamu masih menganggapnya terlalu mengada ngada dan dicari cari saja alasannya.
Lalu apa esesnsi buruk,, negatif, mudoratnya iri ini sehingga ia tidak boleh dirasa?
Sampai dosa jadi ganjarannya. Apa? Apa? Apa?
070610-jtbng
kenapa kita tidak boleh iri?
Kenapa iri dicap sebagai perbuatan dosa?
Apakah ada orang yang tidak pernah iri selama hidupnya?
Apakah aku yang sering iri adalah satu satunya di muka bumi ini?
Apakah benar iri itu tanda tak mampu?
Kalau iri dimaksudkan untuk menjadi cambuk, apakah terdengar tidak masuk akal dan malahan terdengar hanya alasan yang dicari cari?
Pasti ada maksudNya untuk meramu hingga tercipta rasa yang bernaam iri ini. Tapi apa?
Atau pertanyaanku kuubah sedikit..
apa hal negatif yang akan tercipata pada diriku jika aku iri?
Atau kah tidak ada sebenarnya?
Atau malah yang muncul hal positif atau setidaknya aku melihatnya secara positif?
Ok, kamu masih menganggapnya terlalu mengada ngada dan dicari cari saja alasannya.
Lalu apa esesnsi buruk,, negatif, mudoratnya iri ini sehingga ia tidak boleh dirasa?
Sampai dosa jadi ganjarannya. Apa? Apa? Apa?
070610-jtbng
Langganan:
Komentar (Atom)