Selasa, 22 Juni 2010

own citations

Terlalu berat kaki melangkah, walau jarak nya begitu dekat

aku bukan pemenang, tapi aku adalah salah satu petarung handal pada pertarungan hidup ini

berat menerima kenyataan bahwa yang kita sayang, tidak lagi mau memberi sayangnya untuk kita. Namun yang paling berat adalah ketika hati kita di dalam gudang rasanya, sudah tidak lagi menyimpan rasa sayang. Untuk siapapun.

Berat untuk membuatmu percaya. Begitu juga aku. Namun, percayalah. Aku (masih) percaya padamu.

Tidak ada hal hebat yang aku lakukan. Tak pernah ada tepukan meriah untukku. Tak pernah kuterima paket reward atau bonus dari apa yang aku kerjakan. Namun, aku tak akan pernah berhenti untuk melaku hidup.

Aku adalah pejuang cinta dan cita pada satu waktu.
Aku mencium keningnya sembari mengucap jampi berjuta harapan.
Aku melangkahi hidup dengan nafas kasihnya.
Pun aku memeluk mesranya saat aku terluka oleh beribu penolakan nasib baik.

Kenapa dia tidak acuh? Simple saja. Karena baginya, hidup kami bukanlah hidupnya titik

beras kita tinggal seperempat gelas sayang, itu hanya cukup untuk satu kali makan jika kita mau dapat masing masing satu piring. Bisa dua kali makan kalau masing masing setengah piring dan bisa satu hari penuh jika satu jadwal makan kita lewatkan.
Tapi,tenang sayang. Cadangan cinta dan cita kita masih satu gudang yang ukurannya segunung merapi. Kita bisa menggigitnya sedikit demi sedikit jika kita ingin cemilan atau mengambilnya semangkok dan melahapnya berdua sampai kita tertidur kekenyangan oleh mereka.

Kita merepotkan yang tak seharusnya kita repotkan. Tapi dia yang selalu sudi untuk kita repotkan. Dia yang membuat sebagian atau malahan keseluruhan cemas kita sirna. Dia yang sudi repot pikiran dan raganya untuk kita. Dia melakukannya bukan untuk mengharap sesuatu dari kita. Tapi dia lakukan itu semua sembari berharap agar ia mau repot karena kita.

Hatiku sudah penuh dengan kenangan atas sentuhan, tatapan dan perbincangan kita yang melahirkan rasa. Jika pun engkau tidak ada, aku masih bisa menikmatinya dalam ruangan kenangan hatiku. Silahkan pergi menjauh.

Ya syukuri apa yang ada. Adanya kamu jatuh, tak apa apa. Kamu akan melihat hal hal di bawah sana ayng tak bisa kamu lihat saat kamu di atas. Tapi coba tengoklah juga ke atas, ke arah terik matahari. Tidak usah pakai sun block untuk melindungimu, gunakan saja mata tajammu untuk meihatnya sebagai terik penyambuk semangat untuk bangkit dan sebagai cahaya untuk bisa melihat lebih jelas arah melajumu ketika engkau bangkit.

“Melihat tawamu, mendengar senandungmu.” “Menatap indahnya senyuman di wajahmu.” Membuatku tetap menyukaimu. Sekali kusuka akan tetap kusuka kau. No matter what they say.

Senin, 14 Juni 2010

poems2

(4) Dia masih begitu angkuh
tak mau melunak sedikit
dia masih berkuasa
dia bentur benturkan hidupku sesukanya
dia izinkan aku bermimpin tapi dia luluh lantahkan kemudian
dia biarkan aku bangun istana harapan
kemudian kirimkan ombak untuk meratakannya
tapi jangan kau pikir aku kan menyerah
ku punya cukup daya untuk mengalahkan dan
takkan pernah takluk
cam kan itu
wahai hidup
(5)
aku berbuat baik bukan untuk menghindari hal tidak baik darimu
aku berbuat baik bukan untuk menghindari dosa
aku berbuat baik bukan agar kau juga berbaut baik padaku
aku berbuat baik karena aku harus berbuat baik kepadamu

“Itu apa?”


rayez datang digendong mbak satu harinya masuk ke rumah dan langsung ke dalam kamar. Dia tak pakai baju tapi sudah pakai celana. Sementara pengasuhnya memilih baju dalam lemari, rayez yang mukannya sudah putih belepotan bedak tebal yang tidak rata menghampiri ku yang sedang buru buru menutup semua file untuk meraihnya dan bermain dengannya.

Namun belum selesai tugasku menutup semua file, satu tangannya sudah meraih laptop dan sambil memiringkan kepalanya, “itu apa? “ meluncur cepat, agak keras dan jernih sekali. Sehingga telingaku dan mbak satu harinya juga menagkap hal yang sama sebagai pertanda bahwa rayez memang mengucap “Itu apa?”.

WOW. Sebuah kemajuan luar biasa dalam ujarannya. Sampai tadi pagi aku bertemu dia, dia baru mengucap suku kata akhir dari sebuah kata. Misalnya “dah untuk sudah”, yes untuk rayez”, “tu untuk itu”, “mu untuk mau”. “nda untuk bunda”.

Walau memang ada kata yang sudah bisa sejak lama seperti “mama” dan bapak”. Tapi menyambung kata, dua kata, dan didukung dengan ekspresi dan mendekati sesuatu yang jadi maksud perkataannya, itu LUAR BIASA buatku. Dan ini Amazing. Kok dia tahu ya, kalau ia harus mengucapkan itu? Kok dia tahu kalau dia mau ini, atau mau tau itu, beginilah susunan kata dan intonasi yang harus diucapkan. Dia mampu memilih secara tepat dari bagasi katakatanya dan mengutarakannya.

Satu hal lagi, susunan “itu apa?” yang merupakan pertanyaan menambah lagi kekagumanku. Bertanya, menunjukkan banyak hal menurutku. Menunjukkan kerendahan hati, menunjukkan keingintahuan, menunjukkan keinginan untuk berkomunikasi (karena kalau itu hanya frase semisal”itu laptop”, ada kemungkinan orang tidak akan menanggapi)/ untuk bergaul, dll dll.

Ekspresi mata gedenya yang langsung menatap layar laptop saat ia berhasil menggapainya, sangat hidup, dihidupkan oleh keingintahuan.

Tanya semua yang kamu mau tau cinta..tanya semua. Kalau bunda tak tau jawabannya akan bunda carikan. Atau kita cari bersama.

Tanya semua yang kamu mau cinta. Penuhi dirimu dengan brtumpuk tumpuk pertanyaan. Pertanyaan untuk dunia. Dan jangan pernah menutupi diri atau pikiranmu akan semua kemungkinan jawaban yang akan kamu dapati cinta.

Bertanya, berbicara adalah cara mengenal dunia dan diri mu,cintaku.-”RAYEZ KINDA APRILIADI”.

Rabu, 09 Juni 2010

iri

Iri
kenapa kita tidak boleh iri?
Kenapa iri dicap sebagai perbuatan dosa?
Apakah ada orang yang tidak pernah iri selama hidupnya?
Apakah aku yang sering iri adalah satu satunya di muka bumi ini?
Apakah benar iri itu tanda tak mampu?
Kalau iri dimaksudkan untuk menjadi cambuk, apakah terdengar tidak masuk akal dan malahan terdengar hanya alasan yang dicari cari?
Pasti ada maksudNya untuk meramu hingga tercipta rasa yang bernaam iri ini. Tapi apa?
Atau pertanyaanku kuubah sedikit..
apa hal negatif yang akan tercipata pada diriku jika aku iri?
Atau kah tidak ada sebenarnya?
Atau malah yang muncul hal positif atau setidaknya aku melihatnya secara positif?
Ok, kamu masih menganggapnya terlalu mengada ngada dan dicari cari saja alasannya.
Lalu apa esesnsi buruk,, negatif, mudoratnya iri ini sehingga ia tidak boleh dirasa?
Sampai dosa jadi ganjarannya. Apa? Apa? Apa?
070610-jtbng